Selasa, 24 September 2019

Polisi Dalami Kasus Perusakan Bendera di Asrama Mahasiswa Papua

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah masyarakat Papua mendatangi Kantor Komnas HAM untuk melakukan pengaduan di Jakarta, Selasa, 20 Agustus 2019. Masyarakat Papua meminta Komnas HAM untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut atas aksi kekerasan aparat dan tindakan rasisme oleh Ormas reaksioner dalam penggerebekan mahasiswa Papua di Asrama Papua, Surabaya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sejumlah masyarakat Papua mendatangi Kantor Komnas HAM untuk melakukan pengaduan di Jakarta, Selasa, 20 Agustus 2019. Masyarakat Papua meminta Komnas HAM untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut atas aksi kekerasan aparat dan tindakan rasisme oleh Ormas reaksioner dalam penggerebekan mahasiswa Papua di Asrama Papua, Surabaya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Surabaya - Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan mengatakan pihaknya melanjutkan pemeriksaan terhadap enam saksi kasus perusakan bendera merah putih di asrama mahasiswa Papua, Jalan Kalasan 10, Surabaya.

    Menurut Luki, enam saksi yang terdiri dari warga sekitar asrama dan anggota ormas tersebut mengaku mengetahui  ada dua penghuni asrama yang mematahkan tiang bendera.

    “Tapi saksi tidak lihat wajah pelaku. Ia mematahkan bendera, setelah itu masuk ke dalam asrama. Barang buktinya ada, kami ambil patah tiga tiangnya. Benderanya masih terpasang,” kata Luki di Gedung Grahadi Surabaya, Rabu, 21 Agustus 2019.

    Luki menuturkan polisi masih mencari siapa yang memasang bendera itu dan siapa yang merusaknya. Jenderal bintang dua itu mengatakan, petugas kecamatan telah minta izin penghuni asrama untuk memasang bendera di luar pagar. “Memang kan hari itu (Jumat, 16 Agustus) semua rumah wajib memasang bendera,” ujarnya.

    Dirusaknya tiang bendera itu memicu aksi massa ke asrama mahasiswa. Salah satu koordinator lapangan aksi, Arukat Djaswadi, berujar dibuangnya bendera merah putih ke selokan itu diketahui oleh warga sepulang salat Jumat. Tak lama kemudian gelombang massa mendatangi tempat itu.

    “Banyak yang datang, ada dari FKPPI, Pemuda Pancasila, FPI, Banser, Bonek, bahkan pengemudi Grab dan Gojek. Suasana ramai, ada yang lempar-lempar batu sambil menghujat dengan nama-nama hewan,” kata Arukat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Chip Smart SIM Catat Data Forensik dan Pelanggaran Lalu Lintas

    Berbeda dari kartu SIM sebelumnya, Smart SIM memiliki tampilan baru dan sejumlah fitur tambahan. Termasuk menjadi dompet elektronik.