Minggu, 15 September 2019

Minta Maaf Soal Mahasiswa Papua, Risma: Saya Diangkat Jadi Mama

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Surabaya Tri Rismaharini saat berkunjung ke kantor redaksi Tempo, Palmerah, Jakarta, Senin 8 Juli 2019. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Walikota Surabaya Tri Rismaharini saat berkunjung ke kantor redaksi Tempo, Palmerah, Jakarta, Senin 8 Juli 2019. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi terkait insiden di Asrama Mahasiswa Papua di Kota Surabaya, Sabtu, 17 Agustus 2019. Peristiwa itu berbuntut pada kerusuhan yang terjadi di Kota Manokwari, Papua Barat.

    "Kalau memang ada kesalahan di kami di Surabaya, saya mohon maaf," kata Risma di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin, 19 Agustus 2019.

    Kendati demikian, Risma menampik adanya peristiwa pengusiran dan penyerangan terhadap mahasiswa dari Papua. "Tidak benar kalau kami dengan sengaja mengusir, tidak ada itu. Saya diangkat warga Papua jadi Mama Papua, kami menjunjung keberagaman di Surabaya," ujar dia.

    Risma menegaskan bahwa selama ini tidak ada diskriminasi terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya. Bahkan, kata dia, pemerintah Kota Surabaya selalu mengikutsertakan mahasiswa asal Papua dalam setiap kegiatan.

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui bahwa kerusuhan Manokwari pagi tadi dipicu insiden adanya penyerangan dan pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, dan kejadian di Malang, Jawa Timur akhir pekan silam. Di Surabaya, 43 mahasiswa asal Papua sempat diangkut dan diperiksa di Polrestabes Surabaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.