Selasa, 24 September 2019

Pelaku Penyerangan Polsek Wonokromo Dikenal Pendiam

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjaga setelah terjadinya penyerangan terhadap Polsek Wonokromo saat peringatan HUT RI ke-74, Sabtu sore, 17 Agustus 2019. Seorang pria diamankan dalam peristiwa ini. Istimewa

    Polisi berjaga setelah terjadinya penyerangan terhadap Polsek Wonokromo saat peringatan HUT RI ke-74, Sabtu sore, 17 Agustus 2019. Seorang pria diamankan dalam peristiwa ini. Istimewa

    TEMPO.CO, Sumenap-Imam Musthofa, tersangka penyerangan markas Kepolisian Sektor Wonokromo Surabaya dikenal pendiam sejak kanak-kanak. Pemuda 31 tahu itu lebih sering diam di rumah ketimbang bermain dengan teman sebayanya.

    "Bahkan kalau pulang sekolah, dia gak pulang bareng sama yang lain, lebih sering pulang sendirian," kenang Makdum, teman masa kecil Imam, warga Desa Bilaporah, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Senin, 19 Agustus 2019. Bilaporah berbatasan langsung dengan Desa Talaga, tempat tinggal Imam, di Kecamatan Ganding.

    Selain pendiam, religius dan bertabiat baik merupakan sifat lain yang terlintas di ingatan Makdum tentang sosok Imam Musthofa. Maka ia pun kaget begitu mendengar kawannya itu diduga terlibat terorisme. "Dia berubah empat tahun terakhir, sejak merantau ke Surabaya. Dia bercelana cingkrang dan istrinya bercadar," ujar dia.

    Dibanding anak lain di desanya, Imam beruntung mendapat pendidikan tinggi dari orang tuanya. Sekolah dasar dan menengah dia tamatkan di Desa Bilaporah. Dia lalu melanjutkan sekolah ke pesantren begitu lulus.

    Setamat pesantren, Imam pulang ke Talaga sampai menikah. Dia merantau ke Surabaya sekitar empat tahun lalu, setelah anak pertamanya lahir. "Kabarnya dia usaha kerupuk di sana," tutur Makdum.

    Di Surabaya, Imam dan istrinya ngekos di Jalan Sidosermo Gang I sejak 2015. Hidup keluarga ini berubah tertutup sejak anak pertama mereka sekolah di Madrasan Ibtidaiyah Baiturrahman dua tahun lalu. Imam kerap mengikuti pengajian di masjid sekolah itu dan hidupnya berubah tertutup, jarang bergaul.

    Imam membuat heboh warga Surabaya pada Sabtu pekan lalu. Dengan sebilah celurit, dia menyerang dua polisi di ruang SPKT Polsek Wonokromo. Polisi tak curiga karena Imam berpura-pura melaporkan suatu perkara.

    Sembari mengobrol, Imam perlahan membuka ransel dan mengambil celurit dan menyerang polisi di depannya. Si polisi tak mengetahui Imam mengambil celurit karena terhalang sebuah meja.

    Setelah dilumpuhkan, polisi menemukan berbagai senjata dalam ransel itu. Salah satunya sebuah airsoft gun dan beberapa stiker yang identik dengan ISIS, sebuah kelompok teroris di Timur Tengah.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Chip Smart SIM Catat Data Forensik dan Pelanggaran Lalu Lintas

    Berbeda dari kartu SIM sebelumnya, Smart SIM memiliki tampilan baru dan sejumlah fitur tambahan. Termasuk menjadi dompet elektronik.