Minggu, 15 September 2019

43 Mahasiswa Papua di Surabaya Sudah Pulang ke Asrama

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah polisi menyisir Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Sabtu, 17 Agustus 2019.  Sebanyak 43 orang anggota Aliansi Mahasiswa Papua dibawa ke markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. ANTARA/Didik Suhartono

    Sejumlah polisi menyisir Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Sabtu, 17 Agustus 2019. Sebanyak 43 orang anggota Aliansi Mahasiswa Papua dibawa ke markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. ANTARA/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Surabaya - Penyidik Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya memulangkan 43 mahasiswa Papua pada Sabtu tengah malam tadi, 17 Agustus 2019.

    Sebelumnya mereka ditangkap dari Asrama Mahasiswa, Jalan Kalasan pada Sabtu sore lalu dengan tuduhan merusak dan membuang Bendera Merah Putih.

    Setelah diperiksa atau proses verbal semua mahasiswa anggota Aliansi Mahasiswa Papua tersebut dikembalikan ke asrama. "Sudah kami pulangkan tadi malam sekitar pukul 23.30 WIB," kata Kasat Reskrim Ajun Komisaris Besar Sudamiran.

    Kuasa hukum mahasiwa Papua, Fatkhul Khoir, menuturkan bahwa kliennya dituduh melanggar Pasal 66 juncto Pasal 24 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Lambang Negara. Dari 43 mahasiswa, satu di antaranya tidak menjalani berita acara pemeriksaan (BAP) karena mengalami gangguan jiwa.

    Menurut Khoir, penangkapan itu berdasarkan laporan suatu ormas tentang pengrusakan Bendera Merah Putih pada Jumat lalu, 16 Agustus 2019. Pelapor menuding mahasiswa merusak tiang bendera dan membuang benderanya ke selokan.

    "Namun saat saya tanya, rata-rata mereka tidak tahu pengrusakan bendera mana yang dimaksudkan pelapor."

    Khoir menuturkan bahwa sebenarnya para mahasiswa Papua itu siap untuk kooperatif memenuhi panggilan polisi. Namun, mereka khawatir akan terjadi apa-apa jika keluar asrama karena pada Jumat sore lalu massa telah mengepung.

    Para pengepung melempari asrama dengan batu sembari meneriakkan kata-kata berbau rasisme. "Polisi sendiri tak memberi jaminan keamanan," ucap Khoir, yang juga Ketua KontraS Surabaya.

    Ia menyesalkan tindakan polisi yang menerobos asrama mahasiswa Papua sambil menembakkan gas air mata. Padahal, mahasiswa terkurung dalam asrama karena takut keluar. "Saya rasa polisi berlebihan."

    KUKUH S. WIBOWO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.