Dituding Tembak Warga Nduga, Polri Tanya Bukti

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menjelaskan peta jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Islamiyah (JI) di kantornya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juli 2019 (Andita Rahma)

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menjelaskan peta jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Islamiyah (JI) di kantornya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juli 2019 (Andita Rahma)

    TEMPO.CO, Jakarta - Markas Besar Polri menegaskan telah mengamankan Kabupaten Nduga, Provinsi Papua yang sejak Desember 2018 diduduki Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).

    "TNI-Polri mengamankan setiap jengkal tanah air Indonesia karena ini berhubungan dengan kedaulatan negara. Maka negara mesti memberi keamanan bagi rakyat," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di Mabes Polri pada Kamis, 15 Agustus 2019.

    Dedi bercerita, sebelum TNI dan Polri datang, Nduga adalah wilayah yang dikontrol oleh TPNPB-OPM dan situasinya tidak kondusif. Dia mengatakan banyak terjadi kejahatan yang tidak bisa tertangani dengan baik. "Kehadiran TNI-Polri memberi jaminan keamanan kepada masyarakat," katanya.

    Sebelumnya, Theo Hesegem, Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua dari Tim Kemanusiaan menganggap pasukan TNI dan Polri biang dari ketidakstabilan keamanan dan sosial di Kabupaten Nduga. Theo juga mengatakan saat ini jumlah korban mencapai 182 orang lantaran banyak penduduk yang resah dan akhirnya mengungsi ke hutan.

    Tak hanya itu, Tim Kemanusiaan juga mengatakan korban berjatuhan lantaran tertembak aparat TNI-Polri. Atas pernyataan itu, Dedi mempertanyakan kembali bukti-bukti kebenarannya agar dapat dilaporkan ke pihak berwajib.

    "Kalau terbukti ya semua akan dilakukan dengan tegas. Tidak boleh asumsi," kata Dedi.

    Kasus Nduga berawal dari penyerangan terhadap para pekerja proyek infrastruktur yang menewaskan 31 orang. Serangan tersebut dijawab dengan operasi polisionil oleh Polri dan TNI.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.