Orasi Pancasila, Rudiantara: Kabar Hoaks Ada Sejak Zaman Nabi Isa

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkominfo Rudiantara di acara seminar pencegahan ponsel Black Market dengan IMEI pada 2 Agustus 2019. Tempo/Caecilia Eersta

    Menkominfo Rudiantara di acara seminar pencegahan ponsel Black Market dengan IMEI pada 2 Agustus 2019. Tempo/Caecilia Eersta

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara menyebut berita hapus atau kabar bohong sudah ada sejak Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Ia mengajak masyarakat untuk  melawan kabar hoaks karena bisa memecahbelah bangsa dan merusak persatuan.

    “Mari bersama-sama kita lawan hoaks dan jangan mudah meneruskan informasi yang diperkirakan tidak benar,” kata Rudiantara saat acara Aubade Pancasila di halaman Balairung Universitas Gadjah Mada,  Rabu, 14 Agustus 2019.

    Ia menyebut kisah kematian Nabi Isa yang ada kabar bohong saat itu. Begitu pula kabar bohong pada zaman Rasulullah Muhammad.

    Hal-hal yang positif terjadi Di dunia digital. Namun juga mempunyai  sisi-sisi yang negatif. Terutama yang berkaitan dengan berita bohong dan sebagainya.  Bahkan kabar bohong  yang bersifat mengadu domba.

    Perkembangan dunia digital bagaikan dua sisi pedang. Di satu sisi perkembangan dunia digital membawa dampak positif bagi masyarakat.  Antara lain menurunkan tingkat kemiskinan, kesenjangan serta gini rasio. Sebab ekonomi digital selalu berbasis sharing ekonomi, menumbuhkan enterpreneur baru dan lainnya.

    “Banyak bermunculan startup yang lebih mendekati koperasi dengan sifat gotong-royong di dalamnya. Gotong-royong ini merupakan koor dari Pancasila,” kata dia.

    Ia menyatakan pemerintah mengambil sejumlah upaya untuk membatasi penyebaran hoaks. Beberapa di antaranya dengan mengambil langkah membatasi akses, menutup fitur-fitur tertentu di dunia digital.

    “Kita batasi, yang dibatasi itu video dan gambar karena orang cenderung mudah tersulut emosi jika menerima gambar. Berbeda kalau teks, masyarakat akan membaca dan ada kesempatan untuk mencerna info yang diterima,” kata dia.

    Saat ini ada sekitar 14 negara yang juga memiliki kebijakan melakukan penutupan akses informasi saat terjadi penyebaran berita hoaks. Indonesia hanya memberlakukan pembatasan akses untuk kepentingan stabilitas negara.

    Menurutnya hoaks membawa dampak negatif yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Maka pemerintah melakukan upaya secara berjenjang dengan meningkatkan literasi masyarakat. Sehingga mempunyai ketahanan terhadap informasi yang diterima.

    “Kita punya gerakan siber kreasi ada 100 organisasi yang setiap hari melakukan literasi,” kata dia.

    Ia juga menyebut pentingnya memasukan pelajaran literasi media di dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan di negara-negara Skandinavia. Masyarakatnya memiliki ketahanan terhadap kabar hoaks karena sejak dini telah diajarkan bagaimana mencerna informasi.

    “Jangan biarkan jempol lebih cepat daripada pikiran, mari bersama-sama lawan hoaks,” kata dia.

    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam orasi Pancasilanya mengajak masyarakat Indonesia untuk merajut kembali persatuan Indonesia yang dijiwai semangat peduli dan berbagi. Bergotong-royong tanpa membedakan suku, agama, serta golongan.

    “Dengan kerja sama harapannya mampu mencapai prestasi bangsa Indonesia maju dan gemilang,” katanya.

    Untuk merajut persatuan Indonesia, Sultan menyebutkan pentingnya untuk mengaktualisasikan pancasila. Pancasila tidak hanya dilambungkan dalam gagasan semata, tetapi dibawa ke dunia nyata untuk merekatkan berbagai perbedaan.

    “Pancasila jangan hanya dijadikan mitos. Tetapi ideologi praktis untuk merajut persatuan bangsa di tengah tarikan globalisasi,” kata Sultan.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.