Ridwan Kamil Ingin Pilpres dan Pileg 2024 Dipisah, Mengapa?

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengimbau masyarakat waspada dan tidak panik terkait erupsi Gunung Tangkuban Perahu, dari Stockholm, Swedia, Jumat, 26 Juli 2019.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengimbau masyarakat waspada dan tidak panik terkait erupsi Gunung Tangkuban Perahu, dari Stockholm, Swedia, Jumat, 26 Juli 2019.

    TEMPO.CO, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan mendukung wacana memisahkan kembali Pemilihan Presiden dengan Pemilihan Calon Anggota Legislatif atau Pilpres dan Pileg 2024.

    Menurut dia, Pileg dan Pilpres 2019 yang serentak memakan banyak korban di Jawa Barat. Total 173 penyelenggara pemilu di berbagai tingkatan meninggal diduga karena kelelahan.

    “Kalau digabung, kelelahannya luar biasa. Ngurus satu jenis pemilihan saja melelahkan, ini digabung dengan pemilihan yang lain,” ucapnya selepas menerima Surat Keputusan Calon Anggota DPRD Terpilih di KPU Jawa Barat, Bandung, hari ini, Rabu, 14 Agustus 2019.

    Gubernur Ridwan Kamil menyinggung soal itu pada saat memberi sambutan di depan 120 Calon Anggota Terpilih DPRD Jawa Barat. “Kondisi objektif ini yang membuat saya pribadi menyetujui ada wacana dari Kemendagri sebaiknya pileg dan pilpres itu dipisah.”

    Ketua KPU Jawa Barat Rifqi Alimubarok seperti mengamini perdapat Ridwan Kamil. Dia mengatakan Pemilu 2019 di Jawa Barat berjalan lancar walau mendapat sejumlah kendala. Jawa Barat salah satu provinsi yang paling lama melakukan rekapitulasi di tingkat panitia pemilihan kecamatan (PPK), yaitu hampir 1 bulan. Padahal, menurut ketentuan harus selesai dalam 14 hari.

    "Banyak petugas yang sakit, bahkan ada yang meninggal dunia,” ujarnya

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.