ESDM Bentangkan Peta Jalan Pengembangan Panas Bumi

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Jonathan Austin (kiri), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), FX Sutijastoto (tengah), dan Presiden International Geothermal Association (IGA) Alexander Richter saat diskusi High Level Panel di Jakarta Convention Center, Selasa, 13 Agustus 2019.

    Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Jonathan Austin (kiri), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), FX Sutijastoto (tengah), dan Presiden International Geothermal Association (IGA) Alexander Richter saat diskusi High Level Panel di Jakarta Convention Center, Selasa, 13 Agustus 2019.

    INFO NASIONAL — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serius menyiapkan peta jalan atau roadmap guna mencapai target bauran energi 23 persen di tahun 2025. Sejumlah rencana dalam peta jalan tersebut dipaparkan FX Sutijastoto, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) di depan puluhan peserta diskusi High Level Panel di Jakarta Convention Center, Selasa, 13 Agustus 2019.

    Dalam peta jalan tersebut, Sutijastoto memperlihatkan target pada 2030 sebesar 10.002 MW. Saat ini, yang sudah terinstalasi sebanyak 1.948,5 megawatt. Sehingga dalam 11 tahun ke depan harus menambah 8.053,5 megawatt. Kapasitas sebesar itu dapat dicapai dengan 220 proyek yang telah direncanakan. 

    Upaya pencapaian seluruh proyek tersebut dibagi menjadi tiga rentang waktu, yakni 48 proyek pada 2019-2024, lalu 126 proyek antara 2025 hingga 2028, dan terakhir dari 2029 sampai 2030 bertambah lagi 46 proyek.

    “Kalau dihitung, pada 2025 kita bisa mencapai sekitar 7.200 megawatt. Jadi, kalau mau mengejar sesuai target, ya eksplorasi harus ditingkatkan,” ujar Sutijastoto.

    Target yang dimaksud Sutijosto adalah visi Indonesia menjadi negara penghasil panas bumi terbesar di 2024, melampaui Amerika Serikat. Keyakinan tersebut membuncah lantaran sukses menempati urutan ke-2 di bawah negara adidaya tersebut pada 2018, dan menyalip posisi Filipina. Terlebih, sekitar 40 persen cadangan energi geotermal dunia terletak di bawah tanah Indonesia, maka negara ini diperkirakan memiliki cadangan-cadangan energi panas bumi terbesar di dunia. 

    Selain proyek berskala besar, Dirjen EBTKE turut mendorong pembangkit bertenaga panas bumi dengan skala kecil, misalnya prototipe milik BPPT. “Ternyata jumlahnya cukup besar. Tanpa eksplorasi lagi, kita ada potensi sekitar 150 megawatt. Kalau bisa jalan, dengan per unit besarnya 2 megawatt, dan total terdapat 70 unit, rasanya sumber energi ini mampu menggerakkan pabrik-pabrik di sejumlah wilayah di Indonesia,” kata Sutijastoto, optmistis.

    Urgensi penyediaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP),  selain bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca dan pemanasan global, juga memiliki manfaat ekonomi. Pertama, pengembangan panas bumi setara dengan mengurangi impor BBM sekitar 100 ribu barrel per hari pada 2025. 

    “Kedua, panas bumi juga menghasilkan investasi infrastruktur di daerah dan pengembangan ekonomi di daerah. Yang penting juga, panas bumi tidak membutuhkan fuel,” ujar Sutijastoto dengan memberi contoh potensi panas bumi 1.000 megawatt di Flores. Di daerah tersebut, pemerintah akan membangun eco tourism. “Kita akan undang investor untuk membangun wisata alam,” katanya, menambahkan.

    Keberadaan peta jalan dari Kementerian ESDM ini mendapat sambutan hangat Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan, Luky Afirman. “Dengan roadmap ini, kebijakan panas bumi di Indonesia akan lebih terencana, lebih fokus, termonitor perkembangannya, dan yang sangat penting yakni sinergi antarotoritas dapat terjalin dengan baik,” ucap Luky dalam sambutannya.

    Kementerian Keuangan, Luky mengatakan, berkomitmen mendukung pembangunan energi baru, terbarukan. Bukti komitmen tersebut dengan menyiapkan sejumlah fasilitas, antara lain pengurangan pajak penghasilan, pembebasan bea masuk, serta penurunan pajak untuk hak eksplorasi industri minyak dan gas.

    Sementara terkait harga yang jadi penyebab sulitnya geotermal berkembang pesat dibanding pembangkit listrik konvensional seperti batu bara, Luky mengatakan, saat ini Kemenkeu dan Kementerian ESDM sedang membahas skema untuk kesesuaian harga beli listrik panas bumi. Sehingga diharapkan dapat bersaing secara adil dengan sumber energi konvensional lainnya.

    “Semua upaya ini dilakukan dengan satu tujuan bersama, bahwa di masa depan panas bumi tidak sekadar jadi energi alternatif, melainkan jadi sumber energi primer,” kata Luky.

    Selain FX Sutijastoto dan Luky Afirman, diskusi panel menghadirkan Presiden International Geothermal Association (IGA) Alexander Richter, dan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Jonathan Austin. Diskusi ini merupakan rangkaian dari acara The 7th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2019 (IIGCE), 13-15 Agustus. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.