JK: Dulu Pimpinan MPR Tiga, Masak Sekarang 10 Orang

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla berbicara dalam acara Presidential Lecture 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu 24 Juli 2019. Kegiatan yang diikuti oleh 6.148 CPNS hasil seleksi tahun 2018 itu mengangkat tema Sinergi Untuk Melayani. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    Wakil Presiden Jusuf Kalla berbicara dalam acara Presidential Lecture 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu 24 Juli 2019. Kegiatan yang diikuti oleh 6.148 CPNS hasil seleksi tahun 2018 itu mengangkat tema Sinergi Untuk Melayani. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK menyatakan tak setuju pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat berjumlah sepuluh orang. Dia mengungkap alasannya.

    "Berlebihan buat saya. Tugas MPR, kan, tidak banyak," kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa, 13 Agustus 2019.

    Bila MPR dipimpin oleh 10 orang, kata JK, maka akan membingungkan saat mengambil keputusan atau pembagian tugas. "Apalagi, kan, MPR tidak selalu bersidang. Jadi, dulu cuma tiga orang, masak (sekarang) jadi sepuluh," tuturnya.

    Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN), Saleh Partaonan Daulay, mengusulkan agar kursi pimpinan MPR menjadi sepuluh agar tidak ada keributan lagi perihal komposisi pimpinan MPR.

    “Ini adalah politik akomodatif. Sama seperti periode 2014-2019, semua partai di DPR legowo untuk mengadakan tambahan pimpinan di MPR dan DPR,” kata Saleh, kemarin.

    MPR, kata Saleh, merupakan lembaga politik kebangsaan. Karena itu, kata dia, layak jika semua unsur diakomodasi di dalamnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.