Bea Cukai Yogyakarta Jateng Berikan Fasilitas KITE Pembebasan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasilitas KITE Pembebasan dari Bea Cukai Tingkatkan Laba Produsen Sarung Tangan Yogya.

    Fasilitas KITE Pembebasan dari Bea Cukai Tingkatkan Laba Produsen Sarung Tangan Yogya.

    INFO NASIONAL — Untuk terus mendorong pertumbuhan industri di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, Bea Cukai Jateng DIY memberikan perizinan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) Pembebasan kepada PT Green Glove Indonesia (GGI). Ini merupakan perizinan KITE Pembebasan ketiga yang diterbitkan Bea Cukai Jateng DIY di 2019.

    Fasilitas KITE Pembebasan merupakan fasilitas fiskal berupa pembebasan bea masuk serta tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atas impor bahan baku untuk diolah, dirakit, dan dipasang, yang hasil produksinya untuk diekspor.

    “Fasilitas KITE Pembebasan ini akan memberikan manfaat bagi perusahaan. Perusahaan harus tetap patuh dengan ketentuan yang berlaku, terutama terkait pendayagunaan IT Inventory yang merupakan subsistem dari sistem akuntansi perusahaan dan harus digunakan terus-menerus,” ujar Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng dan DIY, Juli Tri Kisworini, Rabu, 7 Agustus 2019.

    General Manager PT GGI, Ari Dianingsih, mewakili direktur utama menyampaikan fasilitas KITE Pembebasan, PT GGI akan mengoptimalkan efisiensi biaya produksi dan pemakaian material. “Efisiensi biaya sebagai dampak fasilitas KITE Pembebasan akan membantu perusahaan meningkatkan laba hingga Rp 576 juta di 2019, Rp 2,125 miliar di 2020, dan Rp 2,65 miliar pada 2021,” katanya.

    PT GGI merupakan perusahaan produksi sarung tangan yang berdiri sejak 2011. Selama ini, perusahaan hanya berproduksi untuk pekerjaan subkontrak, dan di 2019 ini PT GGI akan mulai mengekspor. Perusahaan menargetkan produksi sarung tangan di 2019 sebanyak 2.205.000 buah, 3,3 juta di 2020, dan 3,6 juta sarung tangan di 2021.

    Fasilitas KITE Pembebasan akan membuat biaya impor bahan baku perusahaan menjadi rendah sehingga perusahaan dapat mengekspor hasil produksinya dengan harga yang lebih bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain di pasar global. Meningkatnya daya saing maka akan memperluas pasaran sehingga pesanan yang diterima perusahaan pun akan meningkat, yang selanjutnya akan meningkatkan devisa ekspor dan investasi.

    Dengan pemesanan yang semakin meningkat, kapasitas produksi pun makin meningkat, yang akan memicu penambahan tenaga kerja. Selain itu, keuntungan perusahaan yang meningkat akan menambah kesejahteraan karyawan sehingga akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah dan nasional. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.