Seorang Polisi Diculik di Papua

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga korban berkumpul di depan peti berisi jenazah korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat diserahterimakan di hanggar Avco Bandara Moses Kilangin Timika, Mimika, Papua, Jumat, 7 Desember 2018. Sebanyak sembilan jenazah korban penembakan KKB di Nduga diserahterimakan ke pihak keluarga. ANTARA/Jeremias Rahadat

    Keluarga korban berkumpul di depan peti berisi jenazah korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat diserahterimakan di hanggar Avco Bandara Moses Kilangin Timika, Mimika, Papua, Jumat, 7 Desember 2018. Sebanyak sembilan jenazah korban penembakan KKB di Nduga diserahterimakan ke pihak keluarga. ANTARA/Jeremias Rahadat

    TEMPO.CO, Jakarta - Brigadir Polisi Satu Hedar, 24 tahun, diduga disandera kelompok bersenjata di Papua hari ini, Senin, 12 Agustus sekitar pukul 11.00 WITA.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan, Hedar disandera ketika sedang melakukan tugas bersama rekannya, Brigadir Polisi Kepala Alfonso Wakum, di Kampung Usir, Kabupaten Puncak.

    Ketika mereka berpatroli di Kampung Usir, Hedar dipanggil oleh temannya sehingga Alfonso memberhentikan sepeda motornya.

    "Hedar menghampiri temannya itu," ujar Dedi di kantornya, Senin, 12 Agustus 2019.

    Menurut dia, Alfonso menunggu motor. Pada saat Hedar berbicara dengan temannya tiba-tiba sekolompok orang datang dan langsung membawa Hedar.

    Alfonso lalu lapor ke Pos Polisi di Kago, Kabupaten Puncak. Polri bersama TNI lantas melakukan pendekatan terhadap para tokoh Puncak.

    "Selama ini anggota kami melaksanakan tugas di daerah tersebut tidak memiliki catatan buruk, tetapi selalu aktif berkomunikasi dengan warga setempat," kata Dedi.

    Saat ini polisi dan militer masih mengejar penyandera. Diduga mereka anggota kelompok bersenjata Papua.

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.