Perang Narkoba, Ini Kronologi Bandar Hajar Kapolsek Patumbak

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pengeroyokan. survivalmastery.com

    Ilustrasi pengeroyokan. survivalmastery.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kapolsek Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Ajun Komisaris Ginanjar, bersama anak buahnya tentu tak mengira bakal apes dalam operasi perang narkoba pada Sabtu lalu, 10 Agustus 2019.

    Pengejaran bandar narkoba berinisial A malah membuat dia dirawat di Rumah Sakit Colombia. Ginanjar mengalami luka cukup serius, yakni di pipi kiri, di bawah mata dan lengannya. 

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo hari ini, Senin, 12 Agustus 2019, menceritakan kronologis kejadian yang menimpa aparat di daerah tersebut. 

    Menurut Dedi, kejadian berawal ketika Ginanjar dan anak buahnya melakukan penggerebekan dalam perang narkoba di kampung narkoba, Jalan Karya Marindal I Gang Rukun. Polisi berhasil menangkap tiga orang pengedar narkoba, yaitu U (49), K (30), dan S (29).

    Ketiganya lantas diperiksa. Dari keterangan tersangka, polisi mendapatkan nama bandar besar narkoba berinisial A.

    "Nah, langsung yang bersangkutan (Ginanjar) bersama para anggota ke rumah bandar narkoba itu. Saat akan ditangkap, si bandar itu melarikan diri," ucap Dedi.

    Kala itu, Sabtu, 10 Agustus 2019, diketahui A kabur ke jalan besar dan diburu oleh sejumlah polisi. Ternyata A tidak sendirian. Dia dijaga 20 anak buahnya.

    Anak buah A tadi kemudian mengeroyok Ginanjar dan anggota Polsek Patumbak lainnya. Dalam perang narkoba itu para centeng bandar narkoba menyerang polisi menggunakan senjata tajam.

    "Ada lima orang pelaku yang sudah kami identifikasi," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya. "Ini masih dikejar."

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.