Pesan Jokowi: Kurban Idul Adha Mendorong Kesalehan Sosial

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana bertolak ke Kuala Lumpur dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis sore, 8 Agustus 2019. Jokowi tiba di Kuala Lumpur, Malaysia dengan mengenakan baju adat Bali yang tampak serasi dengan sang istri, Iriana Jokowi, yang mengenakan pakain berwarna senada. facebook.com/Jokowi

    Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana bertolak ke Kuala Lumpur dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis sore, 8 Agustus 2019. Jokowi tiba di Kuala Lumpur, Malaysia dengan mengenakan baju adat Bali yang tampak serasi dengan sang istri, Iriana Jokowi, yang mengenakan pakain berwarna senada. facebook.com/Jokowi

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi berpesan bahwa kurban di hari raya Idul Adha merupakan dorongan untuk melakukan kesalehan sosial. "Baik dengan teman, tetangga, saudara, dan rekan sekampung saya kira yang berkaitan dengan kesalehan sosial harus kita dorong," kata Presiden di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Ahad, 11 Agustus 2019.

    Ia mengatakan setuju dengan pesan khotib bahwa ikatan ketakwaan dengan Allah dan hubungan antarmanusia wajib dilakukan. Selain itu, lewat media sosial, mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menyampaikan, dengan berkurban berarti memberikan yang terbaik demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    "Sebagai warga negara, kita berkorban dengan sumbangsih terbaik bagi bangsa, masyarakat, keluarga, dan masa depan generasi kita," ucapnya.

    Imam dan khotib shalat Ied yang dihadiri Presiden, Iqbal Subhan Nugraha, menyampaikan ceramahnya dengan tema berkurban adalah stimulus menghadirkan kesalehan sosial.

    Dosen Sekolah Tinggi An-Nuaimy Jakarta itu menekankan pentingnya ikatan dengan manusia selain dengan Allah. Salah satu contohnya, masalah utang piutang. Iqbal menceritakan bahwa ketika ada jenazah yang dihadapkan pada Nabi Muhammad, Rasulullah menanyakan apakah dia punya utang piutang atau tidak.

    Sahabat Rasul pun mengatakan dia punya utang piutang. Rasul akan mensalatkan jenazah itu jika tidak punya utang. "Jenazah punya utang, Rasul tidak mau salati. Ia katakan kepada sahabat, salatkan saja," katanya.

    Contoh lainnya adalah orang-orang yang mendustakan agama, yaitu yang menghardik anak yatim. Hal tersebut merupakan bentuk ketidaksalehan secara sosial.

    Iqbal menyebut orang tersebut tak mau memberikan Al-Ma'un atau bantuan penting. Dalam kehidupan nyata, sering dijumpai orang tidak mau menolong tetangganya, meski hanya membantu hal-hal ringan berupa perkakas rumah seperti sendok dan garpu. "Maka itu tidak saleh secara sosial," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.