Suhu Dingin Sambut Jamaah Haji yang Memulai Wukuf di Arafah

Reporter:
Editor:

Burhan Sholihin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jamaah haji di tahun 2019 ini Sabtu seusai sholat dzuhur memulai ibadah wukuf di Arafah. Di dalam tenda di Padang Arafah mereka memperbanyak doa dan dzikir sampai Magrib. (Dok Tempo.co)

    Jamaah haji di tahun 2019 ini Sabtu seusai sholat dzuhur memulai ibadah wukuf di Arafah. Di dalam tenda di Padang Arafah mereka memperbanyak doa dan dzikir sampai Magrib. (Dok Tempo.co)

    TEMPO.CO, Arafah - Puncak ibadah haji, yakni ibadah wukuf di Padang Arafah telah dimulai. Cuaca yang bersahabat, suhu udara yang lebih dingin menyambut jamaah haji tahun ini.

    "Suhu di pagi hari mencapai 32 derajat Celcius  dan di siang hari sekitar 40 derajat Celcius," kata Yulianto, pembimbing dari Tabung Haji Umroh. "Biasanya di tahun-tahun sebelumnya di siang hari suhu bisa mencapai 50-52 derajat Celcius."

     Yulianto dan jamaah Tabung Haji Umroh berangkat dari hotel transit Aziziyah, Mekkah menuju Padang Arafah dengan menggunakan bus-bus yang disediakan oleh pemerintah Indonesia. Perjalanan ditempuh dalam waktu 45 menit. Banyaknya antrian di bus, membuat jarak yang pendek menjadi lama. Rombongan ini berangkat pada pukul 03.00, terlihat dari foto-foto Arafah ini. 

    Di Arafah, jamaah Tabung Haji Umroh tergabung dalam tenda-tenda VIP di Maktab 113. Seperti kebanyakan tenda di Arafah semua dilengkapi dengan mesin pendingin udara, karpet dan tenda antiapi. Khusus untuk jamaah haji plus dilengkapi juga dengan lemari pendingin berisi minuman dan buah-buahan. Suasana tenda wukuf di Arafah bisa dilihat di foto-foto ini,

    Rombongan jamaah haji Indonesia telah berangkat berangsur-angsur dari Mekkah ke Arafah sejak Jumat.  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meninjau langsung tenda-tenda jamaah haji Indonesia, antara lain di Maktab 75 yang didiami oleh kelompok terbang (kloter SOC 65, SOC 35, serta kloter JKG 57.

    Lukman bersyukur tidak ada kendala yang berarti sejak fase pemberangkatan yang berlangsung dari pagi hingga sore tadi. Jumat. “Alhamdulillah tidak ada kendala berarti sejak yang tahap pertama yang pagi hari lalu yang siang dan kemudian bahkan yang sore itu semua sudah berada di sini,” kata Menteri Agama Lukman usai meninjau tenda jemaah di Arafah, seperti dikutip Tempo.co dari situs resmi Kementerian Agama.

    Salah seorang jemaah haji asal kloter 57 embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 57) Nina (57) tidak percaya kalau doanya untuk bertemu Menteri Agama Lukman terkabul. Nina bersyukur karena saat beribadah ke Masjidil Haram, dirinya tidak perlu kesulitan karena dapat menggunakan layanan transportasi bus salawat.

    "Keren abis bus shalawatnya. Bisa antar saya ke Haram kapan saja," dia berseloroh.

    Tiba-tiba, matanya sembab. "Doa saya terkabul untuk bertemu Menag @lukmansaifuddin di Arafah," katanya sesenggukan.

    Begitu juga dengan Zaenal Ma'arif (75), Zaenal yang duduk diatas kursi roda, mendadak menyorongkan badannya ke depan & merangkul. Tangisnya pecah manakala tahu pria yg duduk di depannya adalah Menag Lukman Hakim Saifuddin. Jemaah kloter 35 Embarkasi Solo (SOC35) asal wonosobo ini mengaku bahagia dijenguk Menag di tenda Arafah

    Ibadah wukuf  sendiri berasal dari kata waqafa yang berarti berhenti. Artinya, berhenti dari kegiatan apa pun untuk melakukan perenungan diri hingga terbukanya hijab atas dosa dan maksiat yang pernah dilakukan. Juga terbukanya banyak hal baik yang bisa kita lakukan..

    Hari ini, jamaah haji wukuf (berhenti, berdiam diri) di Arafah. Kata arafah berasal dari kata arafa yang berarti mengetahui atau mengenali. Wukuf di Arafah berarti berdiam diri untuk melahirkan kebenaran yang mendorong meningkatnya keimanan pada diri sang pelaku. seperti disebutkan dalam Al Qur'an Surat Al-Maidah ayat 83.Wukuf merupakan rukun haji dan bisa disebut puncak ibadah haji. Kata Nabi Muhammad SAW, "Tidak ada haji tanpa wukuf".

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.