Peserta Capim KPK Dipangkas 20 Melalui Profile Assessment

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk menjadi pembicara dalam diskusi yang bertajuk

    Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk menjadi pembicara dalam diskusi yang bertajuk "Caleg Selebritas Vs Caleg Berkualitias" di Gedung DPD, Kompleks Parlemen, Jakarta (3/5). Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Hamdi Muluk mengatakan, mereka kemungkinan akan meloloskan 20 peserta capim. Menurut Hamdi hasil tes kali ini akan dinilai oleh psikolog senior, dan biasanya akan dipangkas dengan rasio 1:2.

    “40 potong jadi 20 paling baik,” kata Hamdi di Gedung Lemhannas, Jakarta, Jumat 9 Agustus 2019.

    Selama dua hari, capim KPK menjalani seleksi profile assessment yang banyak bertujuan untuk mengetes kondisi pskilogis. Pada hari pertama mereka memberikan tes tulis, sedangkan di hari kedua mereka menggunakan metode lain seperti focus group discussion, pendalaman track record dan lainnya.

    Hasil tes, kata dia, akan dinilai secara komprehensif oleh 24 psikolog senior dalam dua minggu ke depan. Olahan data itu akhirnya akan dilaporkan kembali kepada pansel.

    “(Data) itu yang kami pakai lagi untuk mengerucutkan biasanya jadi 1:2. Sebanyak-banyaknya lah, tapi seleksi rasio 1:2 jadi kira-kira 20 lah (setengah dari total peserta sekarang, 40). Tapi bisa lebih kecil. Tergantung data yang kita dapat, yang maju ke tahap wawancara akhir,” ujarnya.

    Selanjutnya laporan lengkap mengena profil masing-masing peserta, akan dijadikan bahan wawancara lanjutan dalam tahapan seleksi berikutnya. Data-data tersebut juga akan digabungkan dengan informasi dari lembaga lain, seperti BIN, KPK, dan PPATK.

    Ia mengatakan tak menutup kemungkinan bisa lebih dari 20 peserta. Namun prinsip proses seleksi adalah harus semakin mengerucut, hingga pilihan yang ada semakin sempit. Rasio 1:2 kata dia sudah paling lumrah, dan digunakan di mana-mana.

    “Kalau saya kecerutkan jadi 30, buat apa proses seleksi? Seleksi itu harusnya mendekati jumlah yang lebih sedikit ke yang kita tuju. Kami kan mau cari sepuluh. Nanti kalau 30 sulit bagi saya ambil keputusan nanti,” ucap dia.

    FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.