Polri Sebut Titik Asap Karhutla di Riau Capai 59 Spot

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau berusaha memadamkan semak belukar yang terbakar saat terjadi kebakaran lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Rabu, 31 Juli 2019. Satgas Karhutla Provinsi Riau terus berupaya melakukan upaya pemadaman kebakaran lahan yang masih terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Riau, agar bencana kabut asap tidak terulang kembali. ANTARA

    Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau berusaha memadamkan semak belukar yang terbakar saat terjadi kebakaran lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Rabu, 31 Juli 2019. Satgas Karhutla Provinsi Riau terus berupaya melakukan upaya pemadaman kebakaran lahan yang masih terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Riau, agar bencana kabut asap tidak terulang kembali. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo membeberkan, titik asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Riau telah mencapai 59 spot.

    Dedi menyebut titik api paling banyak terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir. “Dari jumlah tersebut ada 37 dipastikan titik api, paling banyak di Indragiri Hilir dengan sembilan titik,” ujar dia melalui keterangan tertulis pada Jumat, 9 Agustus 2019.

    Lebih lanjut, akibat kebakaran tersebut, asap cukup tebal menyelimuti Kota Pekanbaru sejak Kamis pagi, 8 Agustus 2019. Asap tersebut bahkan menghalangi pemandangan karena terlalu pekat.

    “Dari pengamatan kami, di Kota Pekanbaru akibat asap jarak pandangnya empat kilometer pada jam tujuh. Pada sekitar pukul delapan menjadi tiga kilometer. Memburuk jarak pandangnya,” ucap Dedi.

    Sebagaimana diketahui, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) mencatat luas kebakaran hutan dan lahan sejak Januari-Juli 2019 mencapai 135.747 hektare. Karhutla itu terdiri dari lahan gambut seluas 31.002 hekatre dan lahan mineral 1047.746 hektare.

    Buntut kebakaran hutan dan lahan itu, polisi meringkus 23 tersangka pembakaran hutan dan lahan. Sebagian besar berasal dari Riau dan bergerak secara individu. Kendati demikian, Dedi menjamin Polri tidak akan berhenti pada para tersangka itu, tetapi akan dikembangkan hingga ke korporasi yang diduga kuat terlibat dalam kasus itu.

    "Sebagian besar pelaku ini masih perorangan, jadi belum mengarah korporasi. Tetapi penyidik akan menyelidiki korporasi yang diduga terlibat dalam perkara itu," kata Dedi.

    Sebelumnya Dedi menuturkan sampai saat ini pelaku mengaku melakukan hal itu karena kebiasaan masyarakat adat. Lahan yang dibakar pun tidak dapat dikatakan ilegal karena kepemilikannya berdasarkan adat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.