Sinyal Kongres V PDIP, Pengamat: Demokrat Harus Siap Jadi Oposisi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komando Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengawali kampanye terbuka di Gelanggang Olahraga Ciracas, Jakarta Timur, Ahad, 24 Maret 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Ketua Komando Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengawali kampanye terbuka di Gelanggang Olahraga Ciracas, Jakarta Timur, Ahad, 24 Maret 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai jalan Partai Demokrat untuk bergabung ke koalisi Joko Widodo kian berat. Anggapan ini tak terlepas dari tak diundangnya elite Demokrat ke Kongres V PDIP yang digelar di Bali.

    Adi mengatakan langkah Demokrat memang terkendala hubungan ketua umumnya, Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang tak harmonis. Selain itu, penolakan dari internal koalisi Jokowi juga tak bisa dianggap remeh.

    "Selain dari faktor Mega yang punya kendala psikologis dengan SBY, memang internal yang lain enggak mau ada tambahan," kata Adi kepada Tempo, Jumat, 9 Agustus 2019.

    Berkaca dari dinamika politik belakangan ini, Adi menilai Demokrat harus bersiap berada di luar pemerintahan. Konsekuensi politik yang ada ialah berada di tengah seperti periode 2014-2019 atau sekalian menjadi oposisi.

    "Demokrat harus siap dengan konsekuensi politiknya. Relatively nonblok atau jadi oposisi sejati. Pilihan itu memang harus dipersiapkan kembali," ujarnya.

    Namun menurut Adi, sikap berada di tengah itu tak terlampau menguntungkan Demokrat. Pilihan itu akan membuat partai mercy ini dianggap tak memiliki jenis kelamin politik yang tegas. Sebab, kekuatan politik Demokrat tak lagi sekuat tahun 2009 lalu.

    "Posisi di tengah itu relatif oke dimainkan partai-partai yang masuk tiga besar. Demokrat sekarang posisinya tidak sesignifikan 2009," kata Adi.

    Hingga saat ini, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono belum tampak melakukan manuver dan lobi-lobi politik dengan para elite di koalisi Jokowi. Adi menduga mantan presiden dua periode itu tengah menunggu sembari mencermati perkembangan yang terjadi, terutama dinamika di internal koalisi Jokowi.

    Empat partai koalisi Jokowi memang mengirimkan isyarat resisten terhadap kemungkinan bergabungnya partai baru ke pemerintahan mendatang. Hanya PDIP yang membuka pintu, itu pun hanya tampak jelas kepada Partai Gerindra.

    Dalam pembukaan Kongres V PDIP yang digelar di Bali kemarin, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto hadir atas undangan khusus dari Megawati. Selain Prabowo, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan juga diundang. Adapun SBY dan elite Partai Keadilan Sejahtera tak tampak dalam acara tersebut.

    "Kami menghormati kebijaksanaan pihak PDIP untuk menentukan list undangan acara Kongres PDIP. Tidak masalah," kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Renanda Bachtar, Kamis, 8 Agustus 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.