Polri Temukan Indikasi Jamaah Islamiyah Galang Dana Lewat Medsos

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menjelaskan peta jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Islamiyah (JI) di kantornya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juli 2019. TEMPO/Andita Rahma

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menjelaskan peta jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Islamiyah (JI) di kantornya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juli 2019. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta- Mabes Polri membenarkan jaringan teroris  Jamaah Islamiyah (JI) mengumpulkan uang operasional organisasi dengan cara menggalang dana atau donasi melalui media sosial. Dana tersebut dikumpulkan dengan dalih untuk kegiatan kemanusiaan.

    "Nah mereka (JI) juga menarik dana kepada masyarakat, dengan menggunakan pola-pola seperti lembaga masyarakat. Padahal dana tersebut untuk kepentingan organisasi," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis, 8 Agustus 2019.

    Dana tersebut, kata Dedi, juga dibelanjakan untuk membeli bahan-bahan merakit bom. Menurut Dedi Polri akan bekerja sama dengan perbankan memblokir dan menyita dana milik sejumlah lembaga donasi amal abal-abal bikinan Jamaah Islamiyah itu.

    Detasemen Khusus 88 Antiteror, ujar dia, sudah memberikan data sejumlah lembaga donasi amal yang didirikan Jamaah Islamiyah untuk menghimpun dana dari dalam dan luar negeri. "Data nama-nama lembaga donasi amalnya sudah diserahkan ke PPATK untuk ditelusuri, lalu kami akan bekerja sama dengan bank di Indonesia untuk memblokir agar aliran dana itu tidak digunakan untuk aksi teror," kata Dedi.

    Dedi mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan lembaga donasi amal yang beredar melalui media sosial. Ia menyarankan agar masyarakat melakukan cek silang dan klarifikasi sebelum melakukan amal ke lembaga donasi tersebut.

    "Nanti kami akan berikan literasi digital ke publik agar tidak mudah percaya. Masyarakat itu harus betul-betul mampu melakukan konfirmasi dan klarifikasi jika ada lembaga donasi amal lewat media sosial," kata Dedi.

    Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan perubahan pola pengumpulan dana oleh teroris. Jika sebelumnya dana dihimpun dari tindak kekerasan berupa perampokan dan perampasan, kini dengan menggalang dari perorangan maupun lembaga masyarakat.

    "Dana diperoleh dari bisnis herbal, jual beli pulsa dan servis elektronik. Dulu mereka melakukan fa'i. Sekarang dana dikumpulkan dari bisnis legal," kata Kepala PPATK Ki Agus Ahmad Badaruddin dalam diskusi yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, Rabu, 7 Juli 2019.

    Ki Agus juga menyebut bahwa penggalangan dana mereka berasal dari donasi melalui media sosial. Dana dikumpulkan dengan dalih untuk kegiatan kemanusiaan. Namun, setelah ditelusuri, diketahui dana digalang untuk melakukan aksi terorisme.

    ANDITA RAHMA | EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.