Tiga Surat Sakti Mungkinkan Mbah Moen Dimakamkan di Ma'la

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Majelis Syari'ah Partai Persatuan Pembangunan KH Maimun Zubair (duduk) bersama Ketua Umum PPP Suryadharma Ali,  seusai mengikuti rapat bersama Mahkamah Partai, Ketua dan Sekretaris DPW dan Pengurus PPP di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 21 Oktober 2014. Mbah Moen wafat dalam usia 90 tahun saat beribadah haji di Mekah. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Majelis Syari'ah Partai Persatuan Pembangunan KH Maimun Zubair (duduk) bersama Ketua Umum PPP Suryadharma Ali, seusai mengikuti rapat bersama Mahkamah Partai, Ketua dan Sekretaris DPW dan Pengurus PPP di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 21 Oktober 2014. Mbah Moen wafat dalam usia 90 tahun saat beribadah haji di Mekah. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -Sebanyak tiga surat “sakti” diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai lobi diplomatik yang pada akhirnya memungkinkan KH Maimoen Zubair dapat dimakamkan di Kompleks Pemakaman Ma’la di Mekkah.

    Amirul Hajj yang juga Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin, di Kota Mekkah, mengatakan pemakaman Ma’la sejatinya bukan diperuntukkan untuk jamaah haji Indonesia yang meninggal di Mekkah saat menunaikan ibadah haji.

    “Ma’la adalah pemakaman yang dikhususkan bagi warga Mekkah. Ada pemakaman tersendiri bagi jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia di Mekkah,” kata Lukman pada Rabu, 7 Agustus 2019.

    Kompleks pemakaman itu selama ini dikenal sebagai makam yang mulia dan hanya diperuntukkan untuk mengebumikan tokoh-tokoh tertentu.

    Namun, Menag Lukman mengatakan KH Maimoen Zubair yang akrab dipanggil Mbah Moen itu merupakan ulama besar yang sangat pantas untuk dimakamkan di pemakaman yang terhormat dan semulia Ma’la.

    Oleh karena itu kemudian Kedutaan Besar RI untuk Arab Saudi menerbitkan tiga surat sakti sebagai lobi diplomatik agar Mbah Moen bisa dimakamkan di Ma’la.

    Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebreil menjelaskan tentang proses pengurusan jenazah Mbah Moen hingga akhirnya bisa dimakamkan di Ma’la.

    “Kami menulis tiga surat diplomatik. Pertama ditujukan kepada Raja Arab Saudi meminta kepada Raja Salman bahwa ada seorang ulama besar Indonesia wafat di Mekkah dan kami meminta untuk dimakamkan di Ma’la. Yang kedua surat saya tujukan kepada Gubernur Mekkah, dan yang ketiga kepada Amir Al Muqoddasah,” kata Agus Maftuh saat menghadiri pemakaman Mbah Moen di Ma’la.

    Maftuh menjelaskan proses lobi diplomatik itu juga banyak dibantu oleh warga Indonesia yang tinggal di Mekkah sehingga pihaknya sangat terbantu.

    “Banyak pihak membantu dan warga kita di sini juga sangat membantu semua proses dan alhamdulillah saya sangat bahagia melihat Mbah Moen dimakamkan di Ma’la, sebuah tempat jannatul Ma’la,” ujar Maftuh.

    Ma’la merupakan sebuah perkampungan di Mekkah dan pada zamannya, Rosul juga merupakan warga Kampung Ma’la sebelum berhijrah ke Madinah. Di Ma’la itu pula sang istri, Siti Khodijah juga dimakamkan.

    Sejumlah tokoh besar lain juga dimakamkan di Ma’la, di antaranya Syaikh Nawawi al-Bantani (kakek buyut Kiai Ma’ruf Amin), Syaikh Amin Al Quthbi al-Lomboky, Syaikh Khotib Minangkabau, Sayyid Ibrohim, Sayyid Qosim, Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki.

    Kompleks pemakaman Ma’la jaraknya tak begitu jauh dari Masjidil Haram atau sekitar kurang lebih 500 meter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.