3 Fakta Rapat Jokowi Soal Karhutla

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 6 Agustus 2019. Rapat terbatas membahas pemindahan ibu kota yang telah ditentukan di Provinsi Kalimantan. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 6 Agustus 2019. Rapat terbatas membahas pemindahan ibu kota yang telah ditentukan di Provinsi Kalimantan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menekankan pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. "Jangan sampai api sudah membesar baru kita bingung. Nunjang palang. Menanggulangi," kata Jokowi saat memimpin rapat koordinasi nasional pengendalian kebakaran huran dan lahan di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 6 Agustus 2019.

    Bukan tanpa sebab Jokowi meminta hal itu. Titik panas atau hot spot pada 2019 rupanya meningkat sebesar 69 persen dibanding tahun lalu. Padahal, Jokowi menargetkan angkanya terus menurun tiap tahun.

    Berikut sejumlah fakta yang disampaikan Jokowi dalam rakornas pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

    1. Kolaborasi pemerintah dan aparat
    Jokowi meminta Gubernur, Pangdam, dan Kapolda bekerja sama dengan dibantu pemerintah pusat, Panglima TNI, Kapolri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Badan Restorasi Gambut untuk cepat bertindak ketika api sekecil apapun muncul.

    2. Ancam pecat Kapolda dan Pangdam
    Jokowi meminta Panglima TNI dan Kapolri mencopot bawahannya yang tak bisa mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Aturan main ini sudah diberlakukan sejak 2015.

    3. Malu dengan pemberitaan Malaysia dan Singapura
    Dalam waktu dekat, Jokowi hendak berkunjung ke Malaysia dan Singapura. Namun, kemunculan asap dari kebakaran hutan dan lahan kini tengah ramai diberitakan media-media negeri jiran.

    "Jerebu masuk lagi ke negara tetangga kita. Saya cek jerebu ini apa, ternyata asap. Hati-hati malu kita kalau enggak bisa menyelesaikan ini," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.