Polisi Bungkam di Rapat Pertama Tim Teknis Kasus Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang mahasiswa membentangkan sebuah poster dalam aksi solidaritas peringatan dua tahun kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan, di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 11 April 2019. Wadah Pegawai KPK menuntut Presiden RI Joko Widodo untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta ( TGPF) Independen untuk menghentikan teror terhadap pegawai KPK, sebagai komitmen dalam memberantas korupsi di Indonesia.  TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang mahasiswa membentangkan sebuah poster dalam aksi solidaritas peringatan dua tahun kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan, di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 11 April 2019. Wadah Pegawai KPK menuntut Presiden RI Joko Widodo untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta ( TGPF) Independen untuk menghentikan teror terhadap pegawai KPK, sebagai komitmen dalam memberantas korupsi di Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta-Tim Teknis Polri untuk kasus  Novel Baswedan menggelar rapat pertama di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa, 6 Agustus 2019. Berdasarkan pantauan Tempo, sejumlah anggota tim teknis seperti Wakil Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror dan beberapa pejabat tinggi Kepolisian Daerah Metro Jaya datang ke Bareskrim sekitar pukul 11.50 WIB.

    Tak lama, sekitar pukul 13.45 WIB, anggota tim teknis tersebut keluar dan langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono yang ditugasi meladeni para jurnalis, tak mau membeberkan materi penyelidikan yang dibicarakan dalam rapat tim teknis.

    Argo hanya membenarkan bahwa hari ini merupakan rapat pertama tim teknis sebelum bergegas masuk ke dalam mobilnya. "Iya, rapat pertama tim teknis untuk memulai," kata dia.

    Tim teknis  merupakan tim lanjutan yang dibentuk Polri untuk mengusut kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Tim tersebut telah resmi bekerja pada 1 Agustus 2019 lalu.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasertyo mengatakan tim tersebut akan bekerja mulai dari 1 Agustus 2019 hingga 31 Oktober 2019 atau tiga bulan pertama. Jika perlu, masa kerja tim teknis akan diperpanjang tiga bulan dan dievaluasi per satu semester. "Ada 120 anggota dalam tim teknis. Ini menunjukkan komitmen Polri untuk mengungkap secepat-cepatnya kasus Novel," kata Dedi pada 1 Agustus 2019.

    Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Idham Azis  didapuk menjadi penanggung jawab tim teknis. Adapun ketua tim teknis dipegang Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Brigadir Jenderal Nico Afinta. Ada sejumlah subtim dalam tim teknis ini, yakni penyelidik, penyidik, interogator, surveillance, Siber, INAFIS, Laboratorium Forensik dan subtim Anev yang akan mengevaluasi subtim lainnya.

    Dedi menuturkan personel Densus 88 Antiteror juga tergabung dalam unit Surveillance, IT, dan interogator dalam tim tersebut. Lebih lanjut, tim teknis hanya mengulang penyelidikan kasus Novel dari awal.

    Terkait pengulangan ini, Dedi beralasan, banyak hal yang perlu digali lagi sehingga tim teknis harus melakukannya. "Mungkin masih ada hal yang dimaksimalkan lagi. Tim ini lebih komprehensif dan luas, dianalisa terus sampai tajam. Saya optimis dengan tim teknis terbaik," kata dia

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.