Jokowi: Copot yang Tak Bisa Atasi Kebakaran Hutan

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Manggala Agni memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Pulau Semembu, Indralaya Utara, Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Senin, 5 Agustus 2019. BPBD Sumsel mencatat per awal Agustus, Ogan Ilir menjadi kabupaten dengan wilayah kebakaran lahan terluas yaitu seluas 121,5 hektare dari enam wilayah rawan kebakaran lahan dan hutan di Sumsel. ANTARA

    Tim Manggala Agni memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Pulau Semembu, Indralaya Utara, Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Senin, 5 Agustus 2019. BPBD Sumsel mencatat per awal Agustus, Ogan Ilir menjadi kabupaten dengan wilayah kebakaran lahan terluas yaitu seluas 121,5 hektare dari enam wilayah rawan kebakaran lahan dan hutan di Sumsel. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo memberi pengarahan dalan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2019, Selasa, 6 Agustus di Istana Negara, Jakarta Pusat. Rakornas ini diikuti oleh Gubernur/Walikota, Kapolda, hingga Pangdam di daerah-daerah rawa  kebakaran hutan.

    Dalam kesempatan itu, Jokowi menyesalkan titik panas tahun ini, yang meningkat dibanding tahun lalu. Ia mengingatkan kepada para peserta, bahwa aturan main dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan, masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

    "Aturan yang saya sampaikan 2015 masih berlaku. Saya kemarin sudah telepon Panglima TNI, saya minta copot yang tidak bisa mengatasi. Saya telepon lagi, 3 atau 4 hari yang lalu kepada Kapolri, copot kalau nggak bisa mengatasi kebakaran hutan dan lahan," kata Jokowi saat memberi pengarahan.

    Jokowi mengatakan dibanding 2015, jumlah titik panas di tahun ini memang jauh menurun. Kebakaran hutan dan lahan pada 2015 memang menjadi bencana besar bagi negara, yang membuat 2,6 juta hektare lahan terbakar dan negara merugi Rp 221 triliun.

    Meski tahun ini jumlahnya menurun hingga 81 persen dari tahun 2015, namun Jokowi mengatakan jumlah hot-spot tahun ini meningkat jika dibanding tahun lalu. "Ini yang tidak boleh. Harusnya tiap tahun turun, turun, turun terus. Menghilangkan total memang sulit tetapi harus tekan turun," kata Jokowi.

    Jokowi mengatakan hal ini akan terus ia ingatkan, karena mungkin ada pejabat baru dilantik dan belum tahu aturan ini. Ia mengatakan tak mau bencana 2015 kembali terulang lagi. Karena itu, selain penanganan kebakaran, pencegahan pun sama pentingnya.

    "Jangan meremehkan adanya hotspot. Jika api muncul langsung padamkan jangan tunggu sampai membesar," kata Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.