Mbah Moen Wafat, PBNU: Indonesia Kehilangan Tokoh Panutan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj (kiri), Dewan Pembina Majelis Dzikir Hubbul Wathon, Ma'ruf Amin (kedua kanan) dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Wafie Maimoen Zubair (kanan) pada Halaqah Nasional Alim Ulama di Jakarta, Kamis (13/7/2017). ANTARA FOTO/Rivan Awal

    Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj (kiri), Dewan Pembina Majelis Dzikir Hubbul Wathon, Ma'ruf Amin (kedua kanan) dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Wafie Maimoen Zubair (kanan) pada Halaqah Nasional Alim Ulama di Jakarta, Kamis (13/7/2017). ANTARA FOTO/Rivan Awal

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen pada Selasa, 6 Agustus 2019. Ulama sepuh itu meninggal pada pukul 04.17 waktu setempat di Mekah, Arab Saudi.

    "Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyampaikan Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Berduka yang sangat mendalam. Indonesia kehilangan tokoh panutan, pemimpin dan pengayom umat," ujar Helmy Faishal lewat keterangan tertulis pada Selasa, 6 Agustus 2019.

    Helmy menyebut, bangsa Indonesia kehilangan tokoh Mbah Moen yang penuh sikap kebersahajaan. Helmy mengajak umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama, bersama-sama melaksanakan shalat ghoib dan membacakan surat Al-Fatihah untuk Maimoen Zubair. "Semoga senantiasa ditempatkan di tempat yang paling mulia di sisi Allah SWT," ujar dia.

    Maimoen Zubair merupakan sosok yang gigih memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesia-an. Salah satu upaya penting yang dilakukan oleh Maimoen Zubair adalah menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT atas perjuangan yang penuh dengan kesungguhan dan menghapuskan penjajahan.

    "Semoga jejak keteladanan yang diwariskan oleh KH. Maimoen Zubair bisa kita serap sebagai pelajaran untuk menghadapi tantangan zaman di masa yang akan datang," ujar Helmy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.