Tiga Teguran Keras Jokowi ke PLN Soal Listrik Padam

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi, mendatangi kantor pusat PT PLN (Persero), Jakarta, Senin 5 Agustus 2019. Kunjungan Jokowi terkati terjadinya mati listrik di sejumlah wilayah Pulau Jawa, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Banten. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi, mendatangi kantor pusat PT PLN (Persero), Jakarta, Senin 5 Agustus 2019. Kunjungan Jokowi terkati terjadinya mati listrik di sejumlah wilayah Pulau Jawa, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Banten. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.COJakarta - Tak sampai 15 menit menggelar rapat dengan Pimpinan Direksi Perusahaan Listrik Negara (PLN), wajah Presiden Joko Widodo atau Jokowi masam mendengar penjelasan direksi BUMN itu soal padamnya listrik di Jawa Barat, Jakarta dan Banten yang terjadi dua hari lalu.

    Sejumlah teguran keras disampaikan Jokowi ketika membuka rapat, usai mendengarkan penjelasan PLN dan sebelum meninggalkan kantor PLN, kemarin, Senin, 5 Agustus 2019. Berikut ini, Tempo merangkum tiga teguran keras Presiden Jokowi terhadap kinerja PLN;

    1. Jokowi Sebut PLN Tidak Bekerja Cepat Atasi Gangguan

    Presiden Jokowi sebetulnya sudah mengetahui alasan PLN ihwal pemadaman listrik yang disebabkan gangguan pada dua sirkuit PLN di Ungaran dan Pemalang. Namun, Jokowi tetap ingin mendengar langsung penjelasan dari PLN dengan menyambangi kantor BUMN tersebut.

    Menurut Jokowi, dalam sebuah manajemen besar seperti PLN, mestinya ada tata kelola risiko yang dihadapi dengan manajemen besar, seperti dengan adanya contigency plan dan back up plan. "Pertanyaan saya: kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik?" ujar Jokowi.

    2. Jokowi Sebut PLN Tak Belajar dari Pengalaman, Bisa Rusak Reputasi BUMN

    Tak putus dengan pertanyaan tersebut, Jokowi menyebut PLN tak belajar dari peristiwa yang pernah terjadi di tahun 2002. Pada 17 tahun lalu, juga terjadi blackout untuk daerah Jawa dan Bali. "Mestinya itu bisa dipakai sebuah pelajaran kita bersama jangan sampai kejadian yang sudah pernah terjadi kembali terjadi lagi," ujar Jokowi.

    Menurut Jokowi, kejadian ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN namun banyak hal di luar PLN, terutama konsumen yang sangat dirugikan. "Pelayanan transportasi umum sangat berbahaya sekali. MRT misalnya. Oleh sebab itu, saya ingin mendengar langsung, tolong disampaikan yang simpel-simpel saja. Kemudian kalau ada hal yang kurang, ya blak-blakan saja. Sehingga bisa diselesaikan dan tidak terjadi lagi di masa-masa yang akan datang," ujar Jokowi.

    3. Jokowi Sebut Orang PLN Pintar, Tapi Tak Perkirakan Risiko

    Jokowi sempat mendengarkan penjelasan teknis Plt Dirut PLN yang disampaikan selama hampir 10 menit dalam rapat tersebut. Seolah enggan mendengarkan alasan PLN, Jokowi menyebut penjelasan pimpinan BUMN itu terlalu panjang dan tidak menjawab persoalan.

    "Pertanyaan saya, Bapak Ibu semuanya kan orang pinter-pinter, apalagi urusan listrik dan sudah bertahun-tahun, apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkulasi kalau akan ada kejadian-kejadian? Sehingga kita tahu sebelumnya, kok tahu-tahu drop? Artinya pekerjaan yang ada tidak dihitung tidak dikalkulasi. Dan itu betul-betul merugikan kita semuanya," ujar Jokowi.

    Setelah mendengar permintaan maaf yang kedua kali-nya dari Plt Dirut PLN, Jokowi berpesan agar evaluasi dan perbaikan dilakukan secepatnya serta meminta hal serupa tak terulang kembali.
    "Saya ulang, jangan sampai keulang kembali! Itu saja permintaan saya. Oke marilah terima kasih," ujar Jokowi.

    DEWI NURITA | FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.