Rizieq Shihab: Ijtima Ulama Tak Perjuangkan Politik Pragmatis

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara Reuni Akbar 212 tahun 2018 Novel Bamukmin dalam acara Seminar Nasional bertajuk Reuni Akbar Alumni 212 di Hotel Whiz Hotel, Jakarta, Jumat, 16 November 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Juru Bicara Reuni Akbar 212 tahun 2018 Novel Bamukmin dalam acara Seminar Nasional bertajuk Reuni Akbar Alumni 212 di Hotel Whiz Hotel, Jakarta, Jumat, 16 November 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab mengatakan Ijtima Ulama tidak memperjuangkan politik pragmatis, politik identitas, kedinastian, atau politik dagang sapi, dan politik daging babi.

    “Ingat Ijtima Ulama IV tidak memperjuangkan politik pragmatis kekuasaan atau politik identitas kedinastian, atau politik dagang sapi, apalagi politik dagang babi,” ujar Rizieq di Ijtima Ulama IV melalui video di Lorin Hotel, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin 5 Agustus 2019.

    Rizieq mengatakan, Ijtima memainkan siyasah syariah, yaitu politik syariat yg memperjuangkan nilai keadilan dan kemanusiaan. Acara ini, kata dia, menawarkan agenda kebangkitan Islam dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

    Untuk itu ia mengharapkan agar pendukungnya di berbagai daerah tetap istiqomah. Dia pun berharap agar Ijtima Ulama ini dapat menghasilkan keputusan yang bisa menjadi pedoman umat Islam, khususnya pengikut FPI, GNPF Ulama, dan PA 212. “Semoga Ijtima Ulama IV ini akan menghasilkan keputusan yang bisa menjadi pedoman,” tuturnya.

    Panitia Ijtima Ulama IV, Bernard Abdul Jabar, mengatakan Ijtima kali ini membahas arah perjuangan anggota GNPF Ulama, FPI, dan PA 212. “Insya Allah akan dibahas pula apa-apa saja yang akan dilakukan para ulama dan umat untuk laksanakan kegiatan setelah pilpres. Walaupun kami juga membahas mengenai pilpres yang lalu,” ujar Bernard di lokasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.