Listrik Padam, Jokowi Pertanyakan Backup Plan PLN

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo atau Jokowi (kanan) mencanting batik motif Gurdo di kain sepanjang 74 meter saat menghadiri kegiatan Batik Kemerdekaan di Stasiun MRT Bundaran HI Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019, ANTARA

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo atau Jokowi (kanan) mencanting batik motif Gurdo di kain sepanjang 74 meter saat menghadiri kegiatan Batik Kemerdekaan di Stasiun MRT Bundaran HI Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019, ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mempertanyakan backup plan yang dimiliki PT Perusahaan Listrik Negara (persero) tidak berjalan baik saat terjadi pemadaman listrik pada Ahad kemarin.

    "Dengan manajemen besar tentu saja ada contengency plan, backup plan. Pertanyaan saya, kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik?" kata Jokowi saat melakukan kunjungan ke Kantor Pusat PLN, Jakarta Selatan, Senin, 5 Agustus 2019.

    Jokowi pun meminta Pelaksana tugas Direktur Utama PT PLN Sripeni Inten Cahyani untuk menjelaskan secara singkat peristiwa pemadaman tersebut. Pasalnya, kata Jokowi, pemadaman panjang juga pernah terjadi pada 2002 untuk kawasan Jawa dan Bali. Semestinya, kata Jokowi, peristiwa pada 2002 itu dijadikan pelajaran agar tidak terulang di kemudian hari.

    "Kita tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN tapi juga banyak hal di luar PLN, terutama konsumen dirugikan. Layanan transportasi umum juga berbahaya sekali. MRT misalnya," ucapnya.

    Sripeni menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa pemadaman pada Ahad kemarin. Ia kemudian menjelaskan kepada Jokowi penyebab pemadaman berawal dari gangguan beberapa kali pada Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran-Pemalang. Hal ini mengakibatkan transfer energi dari timur ke barat mengalami kegagalan dan diikuti trip seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Jawa.

    "Upaya PLN memaksimalkan bagaimana perbaikan atau proses transfer dari timur ke barat berjalan. Kemudian kami mohon maaf prosesnya lambat, itu kami akui," kata Sripeni.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.