Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Amelia Ulfah di Cianjur

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tewas atau jenazah atau jasad. shutterstock.com

    Ilustrasi tewas atau jenazah atau jasad. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Resor Sukabumi Kota menetapkan RH, 25 tahun, sebagai tersangka tunggal kasus pembunuhan Amelia Ulfah Supandi, 22 tahun, yang mayatnya ditemukan di tepi sawah, Jalan Sarasa, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

    Kepala Polres Sukabumi Kota, Ajun Komisaris Besar Susatyo Purnomo, mengungkap, RH adalah warga Cianjur dan berprofesi sebagai sopir angkutan umum jurusan Bogor-Cianjur.

    "Hari ini kita menetapkan RH sebagai tersangka tunggal pelaku pembunuhan dengan korban atas nama Amelia. Pelaku adalah sopir angkutan umum jurusan Bogor-Cianjur," kata Susatyo di Sukabumi, Jumat 2 Agustus 2019.

    Susatyo memastikan antara korban dengan pelaku tidak saling mengenal karena pelaku hanya mengangkut korban pada malam sebelum kejadian. Terkait motif polisi masih melakukan pengembangan berikut mencari barang bukti lainnya.

    "RH saat ini kita lakukan penahanan, untuk motif dan lain sebagainya kita akan informasikan pada rilis di kesempatan berikutnya," lanjut Susatyo.

    Amelia Ulfah ditemukan tewas di pinggiran sawah Jalan Sarasa, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, Jawa Barat pada Senin, 22 Juli 2019. Perempuan yang diduga jadi korban pembunuhan itu diketahui merupakan alumni Institut Pertanian Bogor atau IPB.

    "Keponakan saya ini informasinya hendak pulang dari Bogor ke rumahnya di Cianjur, Jabar setelah mendaftar untuk melanjutkan kuliah S1 di IPB. Namun, pada Minggu (21/7) malam kami kehilangan kontak tahu-tahu dapat kabar bahwa ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan," kata paman korban Gunalan, saat ditemui di RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi, Selasa, 23 Juli 2019.

    Polisi kemudian melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Berdasarkan informasi, RH ditangkap petugas dari Satuan Reserse Kriminal Polres Sukabumi Kota di Jalan Lingkar Timur, Kampung Waas, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Jumat 2 Agustus 2019. Pelaku bersama satu orang rekannya disergap di setopan lampu merah saat mengendarai mobil pick up yang mengangkut tabung gas melon 3 kilogram.

    Ramson, 33 tahun, saksi yang berada di lokasi kejadian mengaku melihat ada 3 mobil yang mengepung mobil pick up dekat lampu setopan, tepat di depan kios miliknya. Tukang tambal ban ini menyebutkan bahwa sopir mobil pick up disergap oleh petugas yang keluar dari 3 mobil yang mengepungnya.

    "Saya tidak tahu itu polisi atau bukan, tapi ada satu orang yang mengacungkan pistol. Sopir pick up yang mengangkut tabung gas melon dibawa," ujar Ramson di Cianjur, Jumat 2 Agustus 2019.

    Ramson mengatakan bahwa peristiwa penyergapan terjadi sangat cepat. Dia mengaku menyaksikan langsung saat baru membuka kios tambal ban miliknya.

    "Jaraknya tak sampai 10 meter dari kios tambal ban. Ada 2 orang yang berada di mobil pick up itu. Sopirnya yang dibawa. Kejadiannya hanya sebentar, cepat sekali, tak sampai 10 menit," imbuh Ramson.

    Endang Supandi, 52 tahun, ayah kandung korban, mengaku belum mendapatkan informasi langsung dari pihak kepolisian. "Kalau memang sudah ditangkap tentu jadi kabar baik bagi keluarga," kata dia saat ditemui di rumahnya.

    Endang mengaku sering melakukan komunikasi terkait perkembangan kasus kematian anaknya. Terakhir pihak kepolisian meminta keluarga untuk bersabar dan mendoakan agar polisi dimudahkan sehingga pelaku bisa
    secepatnya ditangkap.

    "Kami tidak terus menanyakan takutnya malah mengganggu proses penyelidikan oleh pihak kepolisian. Kami mempercayakan sepenuhnya pada mereka (polisi)," kata dia.

    Endang menambahkan, keluarga sudah mengikhlaskan kepergian Amelia dan tidak menaruh dendam pada pelaku. Meski sudah memaafkan perbuatan pelaku, proses hukum akan terus berlanjut sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatan pelaku yang sudah menghilangkan nyawa seseorang.

    "Kami juga manusia normal, pasti sempat ada sedih dan marah, tapi mungkin dari kejadian ini kami harus belajar ikhlas, ridho, dan bisa memaafkan. Tapi untuk sisi hukum harus terus berlanjut," kata dia.

    Dia juga berharap keluarga dari pelaku tidak menjadi sasaran dari hukuman sosial warga, sebab tindakan tersebut murni dilakukan oleh pribadi pelaku.

    "Jangan sampai keluarga pelaku yang menjadi korban juga, baik sanksi sosial atau ada sikap lain dari warga. Biar pelaku yang bertanggung jawab, jangan membawa keluarga," kata Endang.

    Ia menyampaikan hal tersebut karena banyak yang peduli terhadap kasus pembunuhan Amelia ini.

    "Saya khawatir keluarga pelaku jadi korban sosial juga, saya tidak mau. Makanya sudah serahkan pada pihak kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya," kata Endang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.