Megawati Bakal Pimpin PDIP Lagi, Media: Kongres Tak Menarik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Manusia Puan Maharani menunggu kedatangan Calon Wakil Presiden Nomor Urut 01, Ma'ruf Amin di kediaman Megawati, di Jln Teuku Umar, Jakarta, Kamis, 9 Mei 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Manusia Puan Maharani menunggu kedatangan Calon Wakil Presiden Nomor Urut 01, Ma'ruf Amin di kediaman Megawati, di Jln Teuku Umar, Jakarta, Kamis, 9 Mei 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pimpinan media menilai Kongres V PDIP yang akan digelar pada 8-10 Agustus 2019, tidak menarik. Musababnya, Megawati Soekarnoputri hampir dipastikan akan terpilih kembali menjadi ketua umum untuk periode kelima pada kongres tahun ini. Dengan kata lain, tidak ada pergantian kepemimpinan kursi Ketua Umum PDIP dalam 20 tahun belakangan.

    "Jadi tidak menarik. Sejak kongres lima tahun, sudah ada wacana regenerasi, namun sampai sekarang ketua umumnya tetap Ibu Megawati," ujar Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Marcellus Hernowo di kantor PARA Syndicate, Kebayoran, Jakarta Selatan pada Jumat, 2 Agustus 2019.

    Hal yang sama diungkapkan Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Merdeka, Ricky Handayani. Menurut Ricky, kongres PDIP merupakan agenda konsilidasi politik partai yang paling tidak menarik untuk media. Sebab, sudah ada pernyataan dari DPP PDIP bahwa Megawati akan terpilih kembali berdasarkan suara dari arus bawah partai berlambang banteng itu.

    Namun, yang ditunggu-tunggu dalam kongres kali ini, ujar Ricky, adalah calon pengganti Megawati yang mungkin bisa tercermin dari struktur Ketua Harian atau Wakil Ketua Umum yang diwacanakan akan dibentuk. "Ketua harian atau Waketum bisa jadi co-pilot yang dipersiapkan untuk menggantikan jika Bu Mega lengser," ujar Ricky di lokasi yang sama.

    Sebagai partai yang kental dengan ideologi Bung Karno, Ricky memprediksi trah Soekarno yang akan menjadi pengganti Megawati. "Prediksi saya Puan Maharani yang akan disiapkan. Tapi apakah Puan dipercaya bisa jadi co-pilot yang handal, ini yang harus diyakinkan," ujar dia.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto belum bisa memastikan apakah akan ada penambahan struktur partai seperti Wakil Ketua Umum ataupun Ketua Harian dalam Kongres PDIP V di Bali pada 8-10 Agustus mendatang. Yang jelas, Hasto memastikan struktur tersebut akan dibahas khusus dengan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP Terpilih di Kongres mendatang.

    "Terkait dengan struktur, tentu saja nanti ketua umum terpilih dalam hal ini adalah Ibu Megawati Soekarnoputri, karena berdasarkan hasil Rakernas IV PDIP dan juga aspirasi dari bawah, memohon ibu Megawati untuk berkenan menjadi ketua umum kembali," ujar Hasto Kristiyanto di kantor DPP PDIP, Jakarta pada Kamis, 1 Agustus 2019.

    Pernyataan Hasto ini menegaskan bahwa Megawati Soekarnoputri akan terpilih kembali untuk periode kelima sebagai Ketua Umum PDIP. Megawati bisa disebut sebagai ketua umum partai terlama di negeri ini. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PDIP sejak 1999. Semenjak itu, Megawati selalu terpilih sebagai ketua umum dalam kongres partai Banteng.

    Ihwal kapan Megawati akan digantikan dan siapa sosok penggantinya yang dipersiapkan untuk periode selanjutnya, Hasto mengatakan bahwa jawaban tersebut tergantung isyarat langit.

    "Bagaimana ke depannya, partai punya cara, tetapi partai punya tradisi dalam membaca suasana kebatinan rakyat, partai juga punya tradisi dalam melihat suasana dan juga campur tangan Allah SWT terhadap kepemimpinan partai," ujar Hasto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.