Jokowi Tanggap Wayang, PDIP Cerita Makna Kresna Kalahkan Raksasa

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo alias Jokowi (tengah) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) berserta sejumlah tokoh dan alim ulama mengikuti acara doa kebangsaan di halaman Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019. Doa kebangsaan ini digelar untuk menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 RI. ANTARA/Wahyu Putro A

    Presiden Joko Widodo alias Jokowi (tengah) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) berserta sejumlah tokoh dan alim ulama mengikuti acara doa kebangsaan di halaman Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019. Doa kebangsaan ini digelar untuk menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 RI. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi bakal menggelar pentas wayang kulit di Istana Merdeka, malam ini, Jumat, 2 Agustus 2019 dengan lakon berjudul Kresna Jumeneng Ratu. Ini merupakan kali pertama Jokowi mengadakan pentas wayang kulit di Istana selama lima tahun menjabat sebagai presiden.

    Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Aria Bima mengatakan lakon Kresna Jumeneng Ratu merepresentasikan seorang raja yang bijaksana dalam memerintah negara. Selain itu lakon Kresna merupakan raja yang biasa memecahkan masalah dengan akal sehat.

    "Raja menolak pendekatan kekuasaan yang otoriter. Hal tersebut tercermin dalam diri Kresna," katanya lewat pesan singkat, Jumat, 2 Agustus 2019.

    Menurut Aria, lakon Kresna Jumeneng Ratu memiliki makna di periode kedua, Jokowi bakal lebih mendengar aspirasi rakyat, memutuskan kebijakan dengan lugas dan demokratis demi kepentingan masyarakat. "Atau visioner partisipatif," ujarnya.

    Dalam cerita pewayangan, Kresna dikisahkan berhasil mengalahkan raja raksasa yang bernama Prabu Narasingha. Setelah mengalahkan Narasingha, Kresna menjadi pemimpin Negara Dwarawati yang masyarakatnya terdiri dari manusia dan raksasa.

    Aria menuturkan, perwujudan raja raksasa yang dikalahkan Kresna dalam adalah semua pihak yang mencoba menggagalkan program ratu. "Istilah modernnya adalah Nekolim (Neokolonialisme-Kolonialisme-Imperialisme) tentunya dengan bentuk dan cara yang sudah berubah, Nekolim yang lebih smart termasuk memecah belah masyarakat dan kepemimpinan Jokowi - Ma'ruf Amin," kata dia.

    Nonton bareng ini bagian dari rangkaian acara menyambut HUT RI ke-74 yang jatuh pada 17 Agustus 2019. Berdasarkan poster acara yang tersebar, rencananya pentas wayang kulit besok malam itu akan didalangi oleh Ki Manteb Sudarsono.

    Selain itu sejumlah penghibur kondang bakal tampil seperti Didi Kempot, Butet Kartaredjasa, Cak Lontong, Edo Kondologit, Soimah, Kirun, Den Bagus Ngarso, dan Endah Laras.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.