Tim Teknis Kasus Novel Baswedan Ulangi Penyelidikan dari Awal

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Penyidik senior KPK Novel Baswedan, memberikan keterangan kepada awak media, di gedung KPK, Jakarta, 20 Juni 2019. Novel Baswedan, diperiksa penyidik dari Polda Metro Jaya dan Tim Gabungan Pencari Fakta sebagai saksi terkait kasus penyiraman air keras terhadap dirinya, telah memasuki 800 hari yang belum terungkap pelakunya. TEMPO/Imam Sukamto

    Penyidik senior KPK Novel Baswedan, memberikan keterangan kepada awak media, di gedung KPK, Jakarta, 20 Juni 2019. Novel Baswedan, diperiksa penyidik dari Polda Metro Jaya dan Tim Gabungan Pencari Fakta sebagai saksi terkait kasus penyiraman air keras terhadap dirinya, telah memasuki 800 hari yang belum terungkap pelakunya. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim teknis kasus Novel Baswedan yang dibentuk Polri akan bekerja mulai Kamis, 1 Agustus 2019. Dari pemaparan Polri, tak ada yang baru dari tugas tim teknis yang dipimpin Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Idham Azis tersebut.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan, hal pertama yang akan dilakukan tim teknis adalah menganalisis lokasi kejadian, yakni sekitar rumah Novel di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

    "Kenapa tempat kejadian perkara (TKP) menjadi titik tolak pekerjaan awal? Karena sesuai teori pembuktian, setiap peristiwa pidana itu selalu bermula dari TKP," kata Dedi di kantornya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 31 Juli 2019. 

    Setelah itu, tim teknis akan kembali memeriksa puluhan saksi yang sebelumnya sudah pernah diperiksa oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Lalu, tim teknis juga akan mengecek kembali kamera pengawas dan mendalami sketsa wajah terduga pelaku. "Untuk mempertajam, jadi nanti seluruh hasil kami rangkai," ucap Dedi.

    Dari penjelasan ini, tak ada yang baru dari tugas yang akan dilakukan tim teknis. Polisi sebelumnya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa puluhan saksi, memeriksa kamera pengawas, dan mendalami serta menyebarkan sketsa wajah terduga pelaku.

    Soal kamera pengawas, tim gabungan pencari fakta yang dibentuk Kapolri menyebut kelemahan dalam mengungkap kasus tersebut adalah kurang bukti di lapangan. Juru bicara tim gabungan Nur Kholis mencontohkan salah satu kekurangan bukti adalah kualitas rekaman kamera pengawas yang buruk.

    Nur Kholis mengatakan jika rekaman itu diperbesar justru resolusi gambar pecah dan tidak fokus. Padahal, Nur Kholis mengatakan, kasus Novel mungkin bisa terungkap bila rekaman kamera pengawas terang. 

    "Seandainya kalau CCTV agak terang mungkin kasus ini tidak berkepanjangan," ujar Nur Kholis di Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada 17 Juli 2019.

    Sementara soal sketsa wajah terduga pelaku, polisi sudah dua kali merilis sejumlah sketsa yakni pada Juli 2017 dan November 2017. Pada saat itu, Polda Metro Jaya merilis dua sketsa wajah pria yang berbeda. Idham Azis, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, mengklaim kemiripan sketsa itu sudah 90 persen sesuai dengan wajah terduga penyerang.

    Terkait pengulangan ini, Dedi beralasan, banyak hal yang perlu digali lagi sehingga tim teknis harus melakukannya. "Mungkin masih ada hal yang dimaksimalkan lagi. Tim ini lebih komprehensif dan luas, dianalisa terus sampai tajam. Saya optimis dengan tim teknis terbaik," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RAPBN 2020, Ada 20 Persen untuk Pendidikan, 5 untuk Pendidikan

    Dalam RAPBN 2020, pembangunan Indonesia akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berikut besaran dan sasaran yang ingin dicapai.