Isi Pidato Purnawirawan TNI Pro Jokowi - Pro Prabowo di Kemenhan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Pepabri Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar (kiri) berbincang dengan Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso (tengah) di sela acara Silaturahmi Purnawirawan TNI di Gedung Jenderal A.H Nasution, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin, 29 Juli 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Ketua Umum Pepabri Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar (kiri) berbincang dengan Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso (tengah) di sela acara Silaturahmi Purnawirawan TNI di Gedung Jenderal A.H Nasution, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin, 29 Juli 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Para Purnawirawan TNI pendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto bertemu dalam acara silaturahmi di Kementerian Pertahanan pada, Senin, 29 Juli 2019.

    Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Jenderal (purnawirawan) Agum Gumelar menjadi salah satu yang hadir. Selain itu, hadir pula Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Jenderal (purnawirawan) Djoko Santoso.

    Sebenarnya, beberapa tokoh lain seperti Jenderal (purnawirawan) Moeldoko yang merupakan Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN) sekaligus Kepala Staf Presiden, juga diundang. Namun ia tak nampak hadir di lokasi.

    Baik Agum maupun Djoko sama-sama memberikan sambutan. Agum dalam sambutannya menegaskan pentingnya soliditas di antara aparatur keamanan nagara.

    "Saya ingin menambahkan, soliditasnya kita lebih perluas. Kalau di sini mungkin soliditas internal kita, unsur TNI darat, laut, dan udara. Tapi saya ingin diperluas soliditas kita dalam membentuk soliditas TNI dan Polri," kata Agum.

    Agum banyak membahas tentang pengalamannya menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan di era Presiden Abdurahman Wahid. Ia menjelaskan soliditas antara TNI Polri saat itu yang menjadi kunci stabilitas negara.

    Adapun Djoko Santoso, lebih banyak membahas terkait potensi ancaman yang akan dihadapai Indonesia ke depan. Ia menilai hal ini sangat berat, apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini.

    "Nasionalisme kita sudah luruh. Kita tak akan menang dari kapitalisme, dari liberalisme, kalau (nasionalisme) sudah luruh. Kita harus bangkitkan lagi," kata Djoko.

    Agum sendiri tak mengikuti pidato Djoko. Usai memberi sambutan, ia langsung pulang dengan alasan ada agenda lain yang telah menunggunya. Sebelum pulang, Agum menyempatkan diri menyalami beberapa tokoh yang hadir, termasuk Djoko Santoso.

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, tak menampik adanya silaturahmi ini adalah untuk menyatukan kembali para purnawirawan yang terpecah selama Pilpres 2019 lalu. Ia mengatakan hal seperti ini akan terus dilakukan.

    "Kita minta TNI dan purnawirawan itu bisa kemana-mana. Maksudnya ya tadi meyakini NKRI dengan dasar Pancasila dan UUD 45. Kalau itu dijaga dan menularkan itu ke partai-partai, lebih bagus," kata Ryamizard.

    Belakangan, silaturahmi di antara para purnawirawan TNI memang kerap dilakukan. Pertemuan ini terjadi Mabes TNI, hotel, hingga terakhir di Kementerian Pertahanan. Berakhirnya Pemilu 2019 dan Idul Fitri, menjadi titik awal pertemuan-pertemuan ini. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.