Kebakaran Hutan Gunung Arjuno, 90 Pendaki Dievakuasi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Arjuno terlihat dari jalan tol Malang-Pandaan, 7 Juli 2019. TEMPO/Abdi Purnomo

    Gunung Arjuno terlihat dari jalan tol Malang-Pandaan, 7 Juli 2019. TEMPO/Abdi Purnomo

    TEMPO.CO, JakartaKebakaran hutan melanda Gunung Arjuno di Kabupaten Malang, Jawa Timur sejak Ahad, 28 Juli 2019 hingga hari ini. Petugas mengevakuasi 90 pendaki yang berada di gunung tersebut.

    Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Achmad Choirur Rochim mengatakan, seluruh pendaki berhasil dievakuasi dalam dua hari terakhir sejak titik api diketahui mulai membakar sebagian hutan di puncak Gunung Arjuno pada Ahad pagi pukul 09.30 WIB.

    Jumlah seluruh pendaki itu sesuai catatan dalam buku pendaftaran pendakian di Pos Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Sebanyak 47 orang lebih dulu turun Senin dinihari lewat jalur Sumber Brantas. Enam orang lainnya turun lewat jalur Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Sebanyak 25 orang sudah turun tapi tidak terdata karena mereka langsung turun pada Ahad siang begitu titik api mulai kelihatan.

    “Sedangkan sisa 12 orang lagi masih dicari kepastian kabarnya. Informasi yang kami terima, kemungkinan besar mereka pun sudah turun. Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa karena ada tim yang yang intensif memantau di sana,” kata Rochim, Selasa, 29 Juli 2019.

    Menurut Rochim, berdasarkan laporan terakhir tim di lokasi kebakaran, titik api berada di Blok Kebut. Titik api menjalar ke barat. Sebagian titik api berhasil dipadamkan, sebagian lagi masih menyala. Titik api yang belum padam berada di tebing yang berjurang dalam dan angin bertiup kencang sehingga menyulitkan pemadaman.

    Ada dua tim yang diberangkatkan ke lokasi kebakaran. Tim pertama beranggotakan sembilan warga atau porter yang berangkat melalui Jalur Pura Luhur Giri Arjuno, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Tim kedua beranggotakan 15 petugas Tahura Raden Soerjo, yang berangkat melalui Jalur Brak Seng, Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji.

    Dua tim itu pun mendapat bantuan tenaga 10 orang personel Tim Reaksi Cepat BPBD Jawa Timur. Seluruh anggota tim mendapat dukungan logistik berupa 20 dus makanan siap saji, 20 dus tambahan gizi, 20 dus lauk-pauk, 300 pasang sarung tangan, dan 2 ribu masker.

    “Ada tim lain dari Resor Pujon yang standby diberangkatkan jika ada kekurangan logistik di sana,” ujar Rochim.

    Secara administratif, Gunung Arjuno atau Gunung Arjuna terletak di perbatasan wilayah Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Gunung Arjuno berada dalam pengelolaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. UPT Tahura Raden Soerjo berada di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.

    Dengan tinggi 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Arjuno menjadi gunung tertinggi kedua di Provinsi Jawa Timur setelah Gunung Semeru (3.676 mdpl). Biasanya, pendakian Gunung Arjuno dilakukan lewat wilayah Kebun Teh Wonosari di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang; wilayah Desa Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, serta wilayah Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji.

    Kebakaran hutan di Gunung Arjuno akhir Juli ini bukan yang pertama. Hutan Gunung Arjuno sudah beberapa kali terbakar di musim kemarau baik yang murni karena faktor alam maupun karena ulah manusia.

    Pada 2018, misalnya, terjadi hutan Gunung Arjuno di wilayah Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dari hasil penyelidikan petugas berwenang, diduga kuat kebakaran terjadi akibat ulah pemburu rusa yang sengaja membakar daun-daun kering untuk memaksa rusa-rusa turun sehingga gampang ditembak.

    Lalu, pada September 2015, juga terjadi kebakaran cukup besar. Titik api berada wilayah Perhutani di Blok Lengkuan, Desa Tawangarjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, yang apinya menjalar ke hutan Gunung Arjuno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.