Ridwan Kamil: Pembukaan Wisata Tangkuban Parahu Tunggu Evaluasi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang membersihkan atap kiosnya dari debu vulkanik pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin 29 Juli 2019. Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu menyatakan, Wisata Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu akan dibuka setelah kawasan wisata tersebut bersih dari debu vulkanik. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    Pedagang membersihkan atap kiosnya dari debu vulkanik pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin 29 Juli 2019. Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu menyatakan, Wisata Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu akan dibuka setelah kawasan wisata tersebut bersih dari debu vulkanik. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, pembukaan kunjungan taman wisata alam Gunung Tangkuban Parahu masih menunggu hasil evaluasi yang akan dilakukannya pekan ini. “Harapan pengelola dibuka secepatnya. Tapi saya harus mendengar dari lembaga Vulkanologi bagaimana situasinya, nanti kita ambil keputusan. Jangan sampai kita membuka ternyata aspek keamanan dan potensi erupsi belum benar-benar bisa diprediksi. Safety first, keamanan nomor satu,” kata dia, Senin, 29 Juli 2019.

    Hari ini, Ridwan Kamil sengaja menyambangi areal puncak Gunung Tangkuban Parahu. Dia sempat menyambangi Pos Pengamatan milik Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Di Gunung Tangkuban Parahu Ridwan Kamil bertemu dengan pengelola kawasan wisata alam.

    Ridwan Kamil mengatakan, erupsi yang terjadi di Gunung Tangkuban Parahu, Jumat, 26 Juli 2019, bukan erupsi magmatik tapi erupsi jenis freatik. Erupsi yang terjadi bersifat lokal dan surut dalam waktu cepat. “Makanya waktu terjadi erupsi kemarin ini langsung, tidak terlalu lama, sudah normal lagi. Posisi hari ini sudah normal,” kata dia. Kendati demikian, dia meminta kewaspadaan tetap dijaga.

    Ridwan Kamil mengatakan, keputusan membuka kawasan wisata alam Gunung Tangkubanparahu masih menunggu evaluasi yang akan dilakukan secepatnya. Besok, misalnya akan dimulai pertemuan dengan berbagai pihak terkait untuk membahas evaluasi prosedur evakuasi jika peristiwa serupa terjadi.

    “Prosedur evakuasi, saya minta SOP dilengkapi. Salah satunya kan posisi parkir harus menghadap ke jalan mulut mobilnya, supaya kalau ada kejadian bisa langsung dilaksanakan (evakuasi). Jumlah mobil juga akan dicek. Itu kenapa kita akan melihat dalam waktu dekat jumlah yang memadai untuk kondisi itu,” kata Ridwan Kamil.

    Dia optimis dalam waktu dekat kawasan wisata alam itu bisa dibuka lagi. “Saya kira pengunjung, wisatawan, sudah boleh datang dengan kesiapsiagaan dari pengelola, yang namanya proses evakuasi jika terjadi hal-hal yang serupa lagi, kira-kira begitu,” kata Ridwan Kamil.

    Selain membahas prosedur, pengelola juga diminta membersihkan abu sisa letusan di areal yang menjadi lokasi kunjungan wisatawan di Gunung Tangkuban Parahu. Pantauan Tempo, debu tebal masih menutupi sebagian besar bangunan perkantoran pengelola, serta deretan kedai pedagang di seputaran Kawah Ratu. Debu halus yang terbawa angin masih berterbangan kendati pengelola sudah mulai membersihkan material gunung api yang menutupi jalan raya dengan menyemprotkan air.

    Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, PVMBG, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam, Hendra Gunawan mengatakan, status aktivitas Gunung Tangkubanparahu berada dalam status Normal (Level 1). Daerah radius bahaya yang dipatok, berada dalam radius 500 meter dari pusat kawah aktif gunung tersebut. “Radius tetap 500 meter,” kata dia, Senin, 29 Juli 2019.

    Hendra mengatakan, kondisi aktivitas Gunung Tangkuban Parahu sudah cenderung turun. Namun, potensi letusan freatik masih berpotensi terjadi. “Freatik itu paling susah diperkirakan, bisa saja terjadi saat diam begini. Tapi tren umumnya turun, itu kan lumayan. Adapun kalau ada tanda-tanda (kenaikan aktivtitas) belum tentu meletus,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.