Pansel Berharap Ada Perempuan di Pimpinan KPK Mendatang

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan (Pansel Capim) KPK periode 2019-2023 Yenti Ganarsih (kanan) bersama Wakil Ketua Indriyanto Seno Adji (tengah) dan anggota Mualimin Abdi (kiri) memberikan keterangan pers terkait hasil uji kompetensi capim KPK di Jakarta, Senin, 22 Juli 2019. Sebanyak 104 kandidat capim KPK telah lolos uji kompetensi dan selanjutnya akan mengikuti tes psikologi pada Minggu, 28 Juli 2019. ANTARA

    Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan (Pansel Capim) KPK periode 2019-2023 Yenti Ganarsih (kanan) bersama Wakil Ketua Indriyanto Seno Adji (tengah) dan anggota Mualimin Abdi (kiri) memberikan keterangan pers terkait hasil uji kompetensi capim KPK di Jakarta, Senin, 22 Juli 2019. Sebanyak 104 kandidat capim KPK telah lolos uji kompetensi dan selanjutnya akan mengikuti tes psikologi pada Minggu, 28 Juli 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Yenti Garnasih berharap ada perempuan yang mengisi posisi pimpinan KPK periode mendatang.

    "Harapan pastinya sebagai perempuan pasti berharap, sangat berharap ada yang bisa terpilih," kata Yenti di Gedung KPK, Jakarta Selatan, pada Senin, 29 Juli 2019. 

    Saat ini, kata Yenti, ada enam perempuan yang lolos dari proses seleksi administrasi, uji kompetensi. Mereka mengikuti psikotes pada Ahad lalu dan akan diumumkan pada 5 Agustus mendatang. Sebelumnya ada 21 pendaftar perempuan, namun 15 orang gugur seiring proses seleksi berjalan.

    Kendati demikian, Yenti berjanji timnya tidak akan mengistimewakan perempuan seperti memberikan kuota khusus. Semua pertimbangan, menurut Yenti, akan dilakukan berdasarkan persyaratan yang sudah ditetapkan. "Kami nggak bicara kuota-kuota," kata Yenti.

    Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi Yudisial (KY) Sukma Violetta juga mengingatkan pentingnya peran perempuan dalam memimpin. Ia melihat perempuan memiliki ciri tersendiri sebagai seorang pemimpin, yakni mengedepankan etik.

    "Perlu ada pimpinan perempuan, sebab perempuan punya style dan value yang cocok karena mengadopsi ethical leadership. Sifatnya merangkul, partisipatif, bukan command and control," ucap Sukma.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.