Haedar Nashir: Guru Besar Muhammadiyah Harus Jadi Panduan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir. ANTARA FOTO

    Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meminta para guru besar persyarikatan Muhammadiyah harus bisa menjadi panduan yang membantu mengarahkan masyarakat dan umat kepada jalan kebenaran dan kebaikan.

    "Jangan sampai para intelektual ini terbawa pola pikir pendek yang marak saat ini dan kehilangan perspektifnya memandang luasnya isu yang terjadi," ujar Haedar saat menghadiri Silahturahim Guru Besar Muhammadiyah 29 Juli 2019 di gedung AR Fachrudin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

    Haedar meminta para guru besar Muhammadiyah bisa mencegah masyarakat jatuh dalam taqlid (mengekor) buta dan bisa memberikan solusi yang bermanfaat.

    "Ini alasan kenapa Muktamar yang kita adakan setiap tahun selalu berusaha mengatasi isu-isu strategis yang terjadi di masyarakat, bukan untuk keren-kerenan tapi demi memberikan jalan keluar sesuai nilai Islam yang berkemajuan," ungkapnya.

    Haedar mengatakan dalam era post-truth saat ini memungkinkan setiap pihak untuk mengklaim opininya sebagai kebenaran tanpa peduli dampaknya secara luas dan menjadi sebuah bias atau malah hoaks.

    Dari tren yang terjadi itu, Haedar meminta kaum intelektual menjadi penengah yang bisa memberikan panduan dan solusi polemik yang terjadi.

    Haedar mengungkapkan, sejatinya jumlah guru besar Muhammadiyah yang cukup banyak juga perlu menjadi basis penghasil keilmuan kokoh.

    "Saat ini Muhammadiyah memiliki 235 guru besar dan salah satu tugas Anda kepada masyarakat adalah sebagai peningkatan kebebasan dan kesejahteraan melalui pemikiran yang maju sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.

    "Terlebih dalam kondisi semangat masyarakat untuk ber-Islam sangat tinggi saat ini, karenanya kontribusi pemahaman bayani, burhani dan irfani dalam suatu isu menjadi sebuah kebutuhan utama," ujar Haedar.

    Haedar menyoroti dalam banyak hal, masyarakat kini terlalu banyak mengomentari dan menggugat masalah yang terjadi di sekitarnya dan sedikit sekali yang membahas akar penyebabnya.

    "Kita jadi lebih sering ribut di hilir padahal yang harus ditangani hulunya," ujarnya.

    Misal pada isu politik, ujar Haedar, hampir semua mengeluh dengan praktik politik yang terjadi saat ini dan banyak sekali menggerutu tentang pelakunya. Padahal yang harusnya dibahas adalah tata kelola dari politik ini sendiri.

    "Apa ada yang rancu atau malah salah dengan sistem yang berlaku kini dan bagaimana kita bisa memperbaikinya," ujarnya.

    Contoh lain, ujar Haedar, juga terjadi pada aspek ekonomi. Dengan berkembangnya konsep ekonomi syariah saat ini menurutnya seharusnya yang menjadi fokus bagaimana sistem itu bisa menjadi solusi yang membangun.

    "Bukan bagaimana kita membuat banyak syariah dan kemudian malah tidak memajukan ekonomi umat dan Islam itu sendiri," katanya.

    Haedar mengungkapkan bahwa melalui forum guru besar yang terbentuk tersebut nantinya akan melahirkan manfaat kepada Islam dan kemaslahatan umat secara luas.

    "Harapan utamanya melalui forum ini, Muhammadiyah akan menjadi pusat keunggulan untuk berbagai isu, mengingat kiprah kontribusi dari para guru besar ini sangat luas pada banyak bidang," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RAPBN 2020, Ada 20 Persen untuk Pendidikan, 5 untuk Pendidikan

    Dalam RAPBN 2020, pembangunan Indonesia akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berikut besaran dan sasaran yang ingin dicapai.