Dahnil Anzar dari Tukang Parkir Menjadi Jubir Prabowo Subianto

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dahnil Anzar Simanjuntak mengepalkan tinjunya saat memenuhi panggilan kepolisian terkait kasus dugaan korupsi dana Apel dan Kemah Pemuda Islam 2017 di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019. Kegiatan dengan anggaran Rp 2 miliar ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Dahnil Anzar Simanjuntak mengepalkan tinjunya saat memenuhi panggilan kepolisian terkait kasus dugaan korupsi dana Apel dan Kemah Pemuda Islam 2017 di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019. Kegiatan dengan anggaran Rp 2 miliar ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Dahnil diketahui menghabiskan masa kecilnya di Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Sibolga, Sumatera Utara. Pria yang akrab disapa Anin ini lahir di Salahaji, desa yang terletak di perbatasan Aceh Tamiang dan Kecamatan Besitang, Langkat, Sumatera Utara, pada 10 April 1982.

    Dahnil tinggal di Kualasimpang, Aceh Tamiang, hingga dirinya kelas 1 SMP. Kemudian, dia mengikuti orang tuanya pindah ke Kota Sibolga dan tinggal di sana hingga lulus SMP. Setelah itu, Dahnil kembali mengikuti orang tuanya pindah ke Kota Tangerang, Banten.

    Perjalanan Dahnil Anzar menempuh pendidikan tidaklah mulus. Keinginannya untuk kuliah sempat terhalang kondisi ekonomi keluarganya. Akhirnya, Dahnil dan teman-temannya membuka kursus bahasa Inggris yang diberi nama Garis English Center Club (GECC).

    Dahnil menjalankan lembaga kursus sembari menjadi tukang parkir. Pada tahun 2000, seluruh keluarganya pulang kembali ke Medan. Namun Dahnil memutuskan tetap tinggal di Tangerang. Setahun kemudian, dengan bantuan biaya dari sang ayah, Dahnil mulai bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.

    Dia pun mendaftar ke Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan Jakarta. Biaya kuliah di kampus tersebut kala itu tergolong terjangkau ketimbang kampus-kampus lain. Di kampus milik jaringan Muhammadiyah inilah Dahnil mulai aktif di kegiatan kepemudaan. Dia bergelut di Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan menjadi Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa.

    Lulus pada 2005 dengan gelar Sarjana Ekonomi, Dahnil melanjutkan studi S2 ke Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Konsentrasi Desentralisasi Keuangan Pusat dan Daerah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

    Studi ini dia tempuh sembari menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Tak berhenti di jenjang S2, Dahnil lanjut menempuh program doktoral bidang ilmu ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, dan rampung pada 2018.

    Pada 2014-2018, Dahnil didapuk sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah yang terpilih melalui Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke-16 di Padang, Sumatera Barat. Dia terpilih menggantikan politikus Partai Amanat Nasional Saleh Partaonan Daulay.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.