Uang Suap Bupati Kudus Diduga untuk Bayar Cicilan Mobil

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka terkait dugaan kasus suap pengisian jabatan perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Kudus tahun 2019, Bupati Kudus 2018-2023 Muhammad Tamzil (kedua kiri) digiring petugas menuju mobil yang akan membawa ke penjara usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu, 27 Juli 2019. Pasca terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) dengan barang bukti senilai Rp170 juta, Muhammad Tamzil akan ditahan bersama Plt Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus Akhmad Sofyan dan Staf Khusus Bupati Kudus Agus Soeranto. ANTARA

    Tersangka terkait dugaan kasus suap pengisian jabatan perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Kudus tahun 2019, Bupati Kudus 2018-2023 Muhammad Tamzil (kedua kiri) digiring petugas menuju mobil yang akan membawa ke penjara usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu, 27 Juli 2019. Pasca terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) dengan barang bukti senilai Rp170 juta, Muhammad Tamzil akan ditahan bersama Plt Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus Akhmad Sofyan dan Staf Khusus Bupati Kudus Agus Soeranto. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi menyangka uang suap yang diterima Bupati Kudus M. Tamzil dipakai untuk membayar cicilan kredit mobil. Duit yang diminta oleh Tamzil sebanyak Rp250 juta.

    Menurut Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, Tamzil meminta duit itu melalui staf khususnya, Agus Soeranto. "MTZ meminta staf khususnya, mencarikan uang sebesar Rp 250 juta untuk kepentingan pembayaran utang pribadinya," kata Basaria di kantornya, Sabtu, 27 Juli 2019.

    Mendapat perintah itu, Agus berbicara dengan ajudan bupati, Uka Wisnu Sejati. Uka teringat satu nama, yakni pelaksana tugas Sekretaris Daerah Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Kudus, Akhmad Sofyan.

    Sofyan pernah menitipkan satu pesan kepada Uka saat Tamzil dilantik menjadi Bupati pada 2018. Ia meminta Uka, ajudan yang punya akses berbicara langsung kepada bupati agar membantu karirnya dan istrinya.

    Uka menghubungi Sofyan dan mengatakan bahwa Bupati Tamzil sedang membutuhkan dana Rp250 juta. Awalnya Sofyan menyatakan tak sanggup. Belakangan ia berubah pikiran dan bersedia memberikan uang itu.

    Penyerahan uang dilakukan di rumah Uka, pada 26 Juli 2019. Setelah menghitung uang itu, Uka mengambil Rp25 juta jatahnya, lalu menyerahkan uang itu kepada Agus di pendopo kantor Bupati Kudus. Agus kemudian menyerahkan uang itu kepada ajudan bupati lainnya bernama Norman.

    Kepada Norman, Agus berpesan agar menggunakan uang itu untuk membayar mobil Nissan Terrano milik bupati. Agus berpesan Norman jangan lupa mengambil kwitansi dan Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor. Namun, belum sempat membayarkan kredit mobil itu, tim KPK keburu mencokok Norman di pendopo gubernur.

    Tim KPK lainnya secara paralel meringkus Agus di rumahnya dan Uka. Di tempat lain, KPK juga menangkap Tamzil dan Sofyan. Mereka kemudian dibawa ke kantor kepolisian untuk dimintai keterangan lalu dibawa ke gedung KPK Jakarta.

    Dari tujuh yang dibawa ke Jakarta, KPK menetapkan tiga orang menjadi tersangka, yakni Bupati Kudus M. Tamzil, Agus, dan Sofyan. KPK menyangka Tamzil bersama Agus menerima suap dari Sofyan untuk pengisian jabatan di lingkungan Pemkab Kudus. KPK menyangka ini bukan penerimaan pertama, karena Pemkab Kudus tengah membuka lelang jabatan untuk sejumlah jabatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.