Pasang Surut Prabowo - Megawati: Batu Tulis Sampai Nasi Goreng

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prabowo Subianto (kiri) dan Megawati Soekarnoputri. TEMPO/ Subekti

    Prabowo Subianto (kiri) dan Megawati Soekarnoputri. TEMPO/ Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto rencannya bakal bertemu hari ini, Rabu, 24 Juli 2019. Sejumlah politikus dari kedua partai membenarkan pertemuan itu, kendati belum merinci tempat dan waktu tepatnya.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyebut pertemuan ini menjadi tradisi silaturahmi yang baik untuk dijalankan para pemimpin. Hasto berujar hubungan Megawati dan Prabowo selama ini pun berjalan baik, bahkan pada saat kampanye pemilihan presiden 2019.

    "Saling menghormati dan tidak pernah terlontar hal-hal yang membuat adanya jarak. Ibu Mega percaya pada kenegarawanan Pak Prabowo," kata Hasto lewat keterangan tertulisnya kemarin, Selasa, 23 Juli 2019.

    Sesama senior dalam politik, Megawati dan Prabowo pernah menjadi kawan maupun lawan. Hubungan keduanya pun mengalami pasang surut seiring dengan posisi politik masing-masing.

    Megawati dan Prabowo pertama kali bersanding sebagai calon presiden-wakil presiden di Pemilihan Umum 2009. Namun keduanya kalah telak dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono yang meraup 60 persen suara.

    Pilpres 2009 ini juga menjadi awal mula retaknya hubungan Megawati dan Prabowo lima tahun kemudian. Kala itu, Mega dan Prabowo menandatangani komitmen bersama di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat yang belakangan dikenal sebagai Perjanjian Batu Tulis.

    Dalam kesepakatan itu, Prabowo meminta diberi keleluasaan mengatur ekonomi Indonesia dan menunjuk sepuluh menteri jika mereka menang pilpres. Adapun Megawati berjanji mendukung  Prabowo di Pemilihan Presiden 2014.

    Jauh panggang dari api, PDIP justru mengusung Joko Widodo di Pilpres 2014. Sejumlah politikus Gerindra menagih ikrar Megawati. Tak tinggal diam, elite PDIP menyebut kekalahan di pilpres 2009 disebabkan keengganan Prabowo menggelontorkan logistik meski kekayaannya ketika itu hampir Rp 2 triliun.

    Hubungan kedua partai pun merenggang. Bergandengan dengan Partai Keadilan Sejahtera, Gerindra menjadi oposisi selama lima tahun pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla, pasangan yang diusung PDIP.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.