Ingin Tubuh Segar Bugar? Simak Resep Tradisional Jokowi Ini

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 16 Juli 2019. Ratas itu membahas perkembangan pembangunan Pembangkit LIstrik Tenaga Sampah (PLTSa) serta penanganan sampah di Indonesia. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 16 Juli 2019. Ratas itu membahas perkembangan pembangunan Pembangkit LIstrik Tenaga Sampah (PLTSa) serta penanganan sampah di Indonesia. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo membagikan resep kebugaran tubuhnya dengan jamu dalam unggahan vlog berdurasi 1,8 menit melalui akun Twitternya pada Selasa pagi, 23 Juli 2019. "Ingin tahu bagaimana saya menjaga kebugaran tubuh? Tidak ada rahasia, tidak ada yang istimewa, hanya ramuan sederhana semata." Jokowi mencuit melalui akun Twitternya yang diunggah sekitar pukul 08.00.

    Melalui videonya Jokowi menyebutkan bahwa pagi hari ini dia akan memulai aktivitas kantor, tapi masih di berada di Istana Bogor. "Biasanya saya kalau pagi itu sebelum beraktivitas minum jamu," kata Jokowi yang meminum jamu menggunakan cangkir besar atau mug logam bercat putih kombinasi hijau.

    Jamu itu terdiri dari campuran temulawak, jahe, dan kunyit. Jahenya ditumbuk atau dirajang-rajang, kemudian temu lawak juga ditumbuk atau dirajang-rajang, diseduh air panas, dan disaring, kemudian diminum. "Dan sudah saya minum mungkin sejak 17-18 tahun yang lalu sampai sekarang," kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

    Jokowi merasakan jamu itu akan memberikan manfaat yang baik untuk kebugaran tubuh.

    "Ingin mencoba? Ya, dibuat sendiri," kata Jokowi sambil tertawa.

    Hingga pukul 09.40 WIB, unggahan itu sudah mendapat sekitar 1.410 retweet dan 6.500 tanda jempol.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.