Kasus Penyerangan Hakim akan Diadili di PN Jakpus, MA Obyektif

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara Mahkamah Agung (MA) Andi Samsan Nganro (batik), Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Abdullah, saat memberi keterangan pers terkait kasus Baiq Nuril, di Media Center Mahkamah Agung, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juli 2019. Tempo/Egi Adyatama

    Juru Bicara Mahkamah Agung (MA) Andi Samsan Nganro (batik), Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Abdullah, saat memberi keterangan pers terkait kasus Baiq Nuril, di Media Center Mahkamah Agung, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juli 2019. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta-Juru bicara Mahkamah Agung, Andi Samsan Nganro, memastikan majelis hakim Pengadilan Negara Jakarta Pusat akan obyektif dalam mengadili kasus penyerangan hakim yang dilakukan pengacara Tomy Winata, Desrizal.

    "Yang menunjuk majelisnya, Ketua PN Jakarta Pusat yang akan memberikan jaminan obyektiftas di dalam penanganan perkara. Sehingga putusan itu dapat dipercaya, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan pada publik," kata Andi di Mahkamah Agung, Jakarta, Jumat, 19 Juli 2019.

    Andi menjelaskan lokasi kejadian penyerangan itu terjadi di wilayah Jakarta Pusat. Sehingga, jika perkara dilimpahkan untuk diadili, maka PN Jakarta Pusat sebagai pengadilan tingkat pertama yang bertugas mengadilinya.

    Menurut Andi, conflict of interest akan terjadi jika yang ditunjuk untuk menangani perkara tersebut adalah hakim yang diserang. "Jadi tidak mungkin diserahkan untuk menangani seperti itu karena ada conflict of interest," ujarnya.

    Kejadian penyerangan ini terjadi dalam sidang yang diadakan pada hari yang sama. Sidang dilakukan setelah Tomy Winata menggugat wanprestasi PT Geria Wijaya Prestige, Harijanto Karjadi, Hermanto Karjadi, Hartono Karjadi, PT Sakautama Dewata, serta Fireworks Ventures Limited.

    Sekitar pukul 16.00 WIB, terjadi lah penyerangan di Ruang Sidang Subekti. Saat itu, ketua majelis hakim, HS, sedang membacakan putusan bagian pertimbangan mengurai petitum yang digugat bos Artha Graha ini. Desrizal lalu berdiri dari kursinya dan mendatangi majelis hakim. Ia melepaskan ikat pinggang dna mengunakannya untuk menyerang HS.

    Serangan itu mengenai kening HS dan hakim lain, DB. Kedua hakim langsung dikawal petugas keamanan pengadilan dan dibawa ke rumah sakit untuk segera divisum. Sedangkan Desrizal ditahan petugas keamanan pengadilan dan dibawa ke Polres Jakarta Pusat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.