Wadah Pegawai KPK: TGPF Malah Pojokkan Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo Harahap (dua kiri) bersama tim kuasa hukum, memberikan keterangan kepada awak media, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Wadah Pegawai KPK mengungkapkan rasa kecewa atas hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta bentukan Polri yang gagal mengungkap pelaku teror penyiraman air kekerasan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo Harahap (dua kiri) bersama tim kuasa hukum, memberikan keterangan kepada awak media, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Wadah Pegawai KPK mengungkapkan rasa kecewa atas hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta bentukan Polri yang gagal mengungkap pelaku teror penyiraman air kekerasan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengkritik hasil kerja tim gabungan Kepolisian RI dalam mengusut kasus teror terhadap Novel Baswedan, penyidik utama KPK. Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo Harahap, menganggap tim yang dibentuk Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian itu gagal mengungkap pelaku teror Novel. "Hasil tim gabungan justru memojokkan korban dan memunculkan ketidakpercayaan," kata Yudi, di Jakarta, Rabu, 16/7.

    Selain mengungkap pelaku teror, Yudi juga mempertanyakan motif penyerangan yang ditemukan tim gabungan. "Bagaimana mungkin motif ditemukan tapi pelaku tidak didapatkan? Seharusnya kan pelaku ketangkap dulu, baru motifnya ketemu," ujar dia.

    Kemarin, tim gabungan mempublikasikan hasil temuan mereka atas kasus teror terhadap Novel. Tim ini bekerja selama enam bulan--sejak Januari lalu--untuk mengungkap pelaku teror Novel pada 11 April dua tahun silam. Saat itu Novel pulang ke rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, seusai salat subuh. Di tengah jalan, dua orang yang berboncengan dengan sepeda motor menyiramkan air keras ke wajah Novel. Insiden ini membuat mata Novel cacat permanen.

    Dalam laporannya, tim mengaku kesulitan mengungkap pelaku teror. Namun menurut mereka motif penyirama air keras itu adalah balas dendam. Tim meminta Polri membentuk tim teknis guna menyelidiki tiga orang yang dicurigai berada di sekitar rumah Novel sebelum teror.

    Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode M. Syarif juga menyatakan kecewa karena tim gabungan gagal mengungkap pelaku penyerangan. Padahal, ia membayangkan kerja tim dapat langsung menemukan calon tersangka. "Wajar jika KPK kecewa," kata dia, Kamis, 18 Juli 2019.

    Syarif menganggap tim bahkan tidak mendapatkan perkembangan yang signifikan untuk menangkap pelaku. Meski begitu, temuan tim, kata dia, dapat menegaskan bahwa teror terhadap Novel bukan serangan pribadi, melainkan, karena kerja pemberantasan korupsi yang ia lakukan di KPK. "Bahkan ini kami pandang serangan terhadap institusi KPK."

    Syarif membantah pernyataan tim gabungan bahwa Novel telah menggunakan kewenangan yang berlebihan hingga menyebabkan teror kepada dirinya. Menurut dia, pegawai KPK selalu melakukan penyidikan dalam koridor hukum acara yang berlaku.

    Ia meminta tim tetap fokus menemukan pelaku, bukan mencari alasan atau membuat isu lain. Pimpinan KPK, kata dia, akan membicarakan langkah berikutnya agar teror dan serangan seperti yang dialami Novel Baswedan tidak terulang.

    MAYA AYU PUSPITASARI | ROSSENO AJI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.