Bentuk Negara Indonesia Menurut Wapres Terpilih Ma'ruf Amin

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kiri) berjabat tangan dengan Cawapres nomor urut 01 Maruf Amin (kanan) saat halalbihalal di Istana Negara, Jakarta, Rabu 5 Juni 2019. Presiden bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla menggelar halalbihalal Idufitri 1 Syawal 1440 Hijriah di Istana Negara yang terbuka bagi masyarakat umum maupun pejabat negara. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Presiden Joko Widodo (kiri) berjabat tangan dengan Cawapres nomor urut 01 Maruf Amin (kanan) saat halalbihalal di Istana Negara, Jakarta, Rabu 5 Juni 2019. Presiden bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla menggelar halalbihalal Idufitri 1 Syawal 1440 Hijriah di Istana Negara yang terbuka bagi masyarakat umum maupun pejabat negara. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden terpilih Ma'ruf Amin punya penjelasan tentang bentuk negara Indonesia. Menurut Ma'ruf, Indonesia dibangun berdasarkan kesepakatan dari berbagai macam orang yang berlatar belakang berbeda.
    Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan hanya berasal dari satu golongan saja, tapi bermacam-macam.

    Menurut perspektif islam, landasan Indonesia adalah Pancasila, titik temu atau kalimatun sawa. Sedangkan Undang-Undang Dasar 1945 adalah kesepakatan nasional. "Indonesia adalah negara kesepakatan. Ada yang menyebutnya Daarul Ahdi wa Syahadah, saya menyebutnya daarul mitsaq (negara kesepakatan)," ujar Ma'ruf saat menjadi pembicara utama di acara Ulang Tahun Dewan Masjid Indonesia (DMI) ke-47, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Rabu, 17 Juli 2019.

    Ma'ruf Amin mengatakan hal ini sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Jika kembali kepada ke pangkal islam yang rahmatan lil alamin, maka Indonesia merupakan islam wasathiyah, atau islam moderat. Artinya, Indonesia menganut cara berpikir yang moderat atau diistilahkan dengan tawasuthiyyah dan tidak tekstual.

    "Tekstual itu rigid, liberal itu tafsirannya lebar tanpa batas. Cara berpikir tekstual itu disebut al jumud alal manqulat. Kesesatan dalam agama kalau tekstual selamanya," kata Ma'ruf.

    Soal bentuk negara khilafah, Ma'ruf Amin mengatakan tak bisa masuk Indonesia. "Kenapa khilafah ditolak di Indonesia? Bukan ditolak tapi tertolak. Karena menghalangi kesepakatan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.