Majelis Etik Menilai Munas Golkar Tak Perlu Dipercepat

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Majelis Etik Golkar Muhammad Hatta (baju putih) usai memanggil Airlangga Hartarto di Hotel Gran Melia, Jakarta pada Senin, 15 Juli 2019. TEMPO/Dewi Nurita

    Ketua Majelis Etik Golkar Muhammad Hatta (baju putih) usai memanggil Airlangga Hartarto di Hotel Gran Melia, Jakarta pada Senin, 15 Juli 2019. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Etik Golkar Muhammad Hatta berpendapat bahwa musyawarah nasional atau Munas Golkar tak perlu dipercepat. Munas tetap digelar sesuai waktunya pada Desember 2019. Hal itu ia katakan usai bertemu dengan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartanto di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin, 15 Desember 2019.

    "Kami berpendapat Munas digelar Desember 2019 saja. Airlangga ini kan meneruskan kepemimpinan Novanto yang selesainya Desember 2019," kata Hatta di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin, 15 Desember 2019.

    Lebih lanjut, Hatta mengkritik pihak-pihak yang ingin mempercepat pelaksanaan Munas Golkar. Ia mengingatkan bahwa pelaksanaan itu sudah sesuai aturan dan mekanisme partai. "Ya itu kan udah aturan. Kalau kami mengingatkan Munas ini selesai Desember. Jadi enggak usah dicepetin, dilambatin," kata dia

    Saat ini di internal Partai Golkar terjadi perbedaan pandangan terkait digelarnya pelaksanaan Munas 2019. Kubu Bambang Soesatyo menginginkan munas digelar pada September, sementara kubu Airlangga Hartarto menginginkan munas digelar pada Desember 2019.

    Hatta lantas mempertanyakan kepentingan apa di balik pihak-pihak yang ingin mempercepat Munas tersebut. Ia mengatakan usulan percepatan pelaksanaan Munas itu justru dapat melanggar etik partai.

    "Secara etik, kami melihat sesuatu diminta belum waktunya dipercepat, dasarnya apa? Kepentingannya apa? Justru melanggar etik itu," kata dia.

    Hatta mengatakan, majelis etik Golkar akan menindak jika ada pengaduan. "Kami sifatnya menunggu pengaduan, kalau enggak ada yang ngadu, ya kami enggak perlu panggil," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.