Airlangga Klaim Sudah Bahas Paket Pimpinan MPR dengan Partai Lain

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama pimpinan DPD se-Indonesia usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 1 Juli 2019. Tempo/Friski Riana

    Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama pimpinan DPD se-Indonesia usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 1 Juli 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengklaim sudah bicara dengan pimpinan sejumlah partai perihal pembentukan paket pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Namun, dia tak merinci partai mana saja yang diajaknya bicara.

    Baca: Momen Ketika Cak Imin Guyon Minta Kursi Ketua MPR

    "Sudah ada pembicaraan," kata Airlangga singkat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

    Airlangga pun menganggap partainya lebih berhak mendapatkan kursi ketua MPR ketimbang Partai Kebangkitan Bangsa. Alasannya, perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat partai beringin lebih banyak. "Komunikasi lancar tetapi di parlemen kan tergantung kursi," kata Airlangga.

    Sebelumnya, Ketua Umum PKB dalam sejumlah kesempatan blak-blakan mengatakan ingin menjadi ketua MPR. Ketua DPP PKB Lukman Edy mengatakan Muhaimin melakukan sejumlah lobi politik untuk mendapatkan kursi ketua MPR.

    Baca: Emoh Jadi Menteri Jokowi, Cak Imin Lebih Pilih Jadi Ketua MPR

    Di antaranya dengan mendatangi Wakil Presiden terpilih Ma'ruf Amin dan meminta izin. Lukman mengatakan Muhaimin juga akan menemui Presiden Joko Widodo.

    "Pak Muhaimin sudah menghadap Pak Ma'ruf Amin, mungkin juga sudah bicara dengan Pak Jokowi," kata Lukman Edy kepada wartawan di Jakarta pada Jumat, 12 Juli 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.