KPK Duga Nazaruddin di Bui Tahu Soal Suap Bowo Sidik

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana korupsi yang juga mantan Anggota DPR M Nazaruddin keluar dari Gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, 27 September 2016. Dalam pemeriksaan kali ini, Nazaruddin dimintai keterangan selama sembilan jam. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Terpidana korupsi yang juga mantan Anggota DPR M Nazaruddin keluar dari Gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, 27 September 2016. Dalam pemeriksaan kali ini, Nazaruddin dimintai keterangan selama sembilan jam. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin mengetahui pengurusan Dana Alokasi Khusus untuk Kabupaten Meranti, Provinsi Riau. Nazaruddin kini masih mendekam di penjara sejak divonis bersalah suap wisma atlet dan belakangan juga karena gratifikasi dan pencucian uang.

    Baca: KPK Sita Duit Rp 3,5 Miliar dari Kamar Gubernur Kepri

    KPK belum menjelaskan bagaimana terpidana kasus korupsi itu punya informasi mengenai pengurusan DAK walau mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin. "Saksi itu diperiksa karena mengetahui atau punya peran," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, di kantornya, Jakarta, Jumat 12 Juli 2019.

    Sebelumnya, KPK berencana memeriksa Nazaruddin sebagai saksi untuk tersangka suap Bowo Sidik Pangarso. KPK menetapkan Bowo tersangka menerima Rp 2,5 miliar dari General Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti. Selain itu, KPK menduga anggota DPR itu menerima duit gratifikasi senilai Rp 6,5 miliar.

    KPK menduga sebagian uang itu diterima terkait pengurusan DAK untuk Kabupaten Meranti. Dalam proses penyidikan, KPK telah menggeledah ruang kerja anggota DPR M Nasir. Adik kandung Nazaruddin itu juga sudah diperiksa pada 1 Juli 2019. Selain itu KPK juga memeriksa Bupati Meranti Irwan.

    Baca: KPK Segel Ruang Rahasia Gubernur Kepri Nurdin Basirun

    Setelah pemeriksaan kedua orang itu, KPK berencana memeriksa Nazar dan adiknya yang lain, Muhajidin Nur Hasim, pada 5 Juli. Namun, Nazar tak bisa diperiksa dengan alasan sakit. Sementara Muhajidin mangkir dari pemeriksaan.

    Untuk Muhajidin, KPK menjadwalkan ulang pemeriksaannya pada Senin, 15 Juli 2019. "Kami harap para saksi kooperatif," kata Febri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.