Luhut Panjaitan Urus Kepulangan Jenazah Sutopo dari Ghuangzhou

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengunggah video reaksi warga saat gempa magnitudo 5,9 di Banggai, Jumat, 12 April 2019. Twitter/SutopoPN

    Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengunggah video reaksi warga saat gempa magnitudo 5,9 di Banggai, Jumat, 12 April 2019. Twitter/SutopoPN

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan turut mengurus kepulangan jenazah Sutopo Purwo Nugroho ke Indonesia. Staf khusus Luhut, Atmadji Sumarkidjo  membenarkan, Luhut yang sedang melakukan kunjungan kerja di Ghuangzou, ketika mendengar kabar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu meninggal, langsung menuju St Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, Cina.

    "Pak Luhut minta Konjen RI Pak Gustanto untuk mengurus segala keperluan pemulangan jenazah," ujar Atmaji saat dihubungi Tempo pada Ahad, 7 Juli 2019.

    Baca juga: Sutopo Masih Rutin Kabarkan Gempa Palu Meski Jalani Perawatan

    Sutopo meninggal di St Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, Cina, pada hari ini, Ahad pukul 02.00 waktu setempat. Sutopo meninggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru.

    Jenazah Sutopo rencananya akan diterbangkan ke Indonesia pada pukul 15.10 waktu Ghuangzou. Jenazah diperkirakan di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 20.00 malam ini.

    Baca juga: PBNU: Sutopo Purwo Nugroho Orang Baik

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal Doni Monardo mengatakan, proses pengurusan administrasi pemulangan jenazah Sutopo mendapat bantuan dari pemerintah. Mantan Panglima Kodam Siliwangi ini menyebut bahwa Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ikut berkoordinasi dengan pihak Imigrasi Cina. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.