Kejaksaan Ambil Alih Penanganan Dua Jaksa Kejati DKI dari KPK

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif memberikan penjelasan mengenai OTT ketum PPP Romahurmuziy pada saat Konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Sabtu, 16 Maret 2019. TEMPO/ Muhammad Fadhlan

    Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif memberikan penjelasan mengenai OTT ketum PPP Romahurmuziy pada saat Konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Sabtu, 16 Maret 2019. TEMPO/ Muhammad Fadhlan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kejaksaan Agung mengambil alih penanganan hukum dua jaksa Kejaksaan Tinggi atau Kejati DKI Jakarta yang ditangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi pada Jumat lalu.

    Baca: KPK Tetapkan Jaksa Kejati DKI Tersangka Suap Lobi Tuntutan

    "Kemarin yang dikatakan OTT, berikut barang buktinya akan diserahkan ke kami, termasuk pihak yang terkait lain untuk dilakukan penanganan perkara selanjutnya," kata Jaksa Agung Muda bidang Intelijen Jan S Maringka di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu, 29 Juni 2019.

    Dua orang jaksa yang dimaksud Jan adalah Kepala Subseksi Kejati DKI, Yadi Herdianto dan Kepala Seksi Kamnegtibum TPUL Kejati DKI Yuniar Sri Pamungkas.

    Tim KPK menangkap Yadi di kantor Kejati DKI pada Jumat sore, 28 Juni 2019. KPK menyita duit Sin$ 8.100 yang belum jelas sumbernya. Sebelum ditangkap, ia juga ditengarai telah menerima duit Rp 200 juta dari pengacara bernama Alvin Suherman dan pengusaha, Sendy Perico untuk mengakali tuntutan jaksa dalam kasus penipuan yang diadili di Pengadilan Jakarta Barat.

    Yadi membawa duit itu ke kantornya untuk diserahkan kepada Asisten Bidang Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Agus Winoto yang berwenang menyetujui rencana penuntutan. Sendy, Alvin dan Agus ditetapkan menjadi tersangka penyuap dan penerima suap oleh KPK. Proses penyidikan ketiga orang ini ditangani KPK. Kendati demikian, Sendy masih buron.

    Adapun Yuniarti ditangkap di Bandara Halim Perdana Kusuma pada hari yang sama. Dari tangannya, KPK menyita duit sebanyak Sin$ 20.874 dan US$700 yang belum dijelaskan asal-usulnya. Yadi dan Yuniarti dibawa lebih dulu ke Kejagung, sebelum diperiksa di Gedung Merah Putih KPK pada sore hari.

    Laode berdalih pihaknya tak menetapkan Yadi dan Yunarti menjadi tersangka karena belum memeriksa Sendy. Dia bilang KPK tak bisa serta-merta menetapkan seseorang menjadi tersangka walau tertangkap dalam OTT. "Yang jelas menurut penilaian KPK, hanya tiga yang bisa dinaikkan sebagai tersangka," kata Laode.

    Dia mengatakan proses penyelidikan kedua jaksa ini akan ditangani Kejagung dengan berkoordinasi dengan KPK. Sementara Jan mengatakan kedua jaksa itu akan diperiksa secara etik oleh bagian pengawasan Kejagung, sementara unsur pidananya bakal ditelisik bagian tindak pidana khusus Kejagung.

    Baca: ICW Minta KPK Tangani Sendiri Hasil OTT Jaksa Kejati DKI

    Pakar hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai ada yang aneh dalam penanganan kasus ini. Ia heran alasan KPK menyerahkan penanganan dua jaksa ke Kejagung padahal KPK yang melakukan OTT. "Ada something wrong di dua lembaga pelayanan publik ini. Sistem penegakan hukum kita semakin tidak karuan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.