Pansel KPK: Jenggot dan Celana Cingkrang Bukan Kriteria Penilaian

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam konferensi pers setelah dipanggil Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, Jakarta, 17 Juni 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    Panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam konferensi pers setelah dipanggil Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, Jakarta, 17 Juni 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi atau Pansel Capim KPK Al Araf menyatakan panitia akan menggunakan tiga indikator dalam menyeleksi calon pimpinan yang terindikasi terpapar radikalisme. Indikator yang pertama adalah bahwa si calon memiliki komitmen terhadap ideologi Pancasila.

    Baca juga: Kata Pukat UGM Soal Nama-nama Panitia Seleksi KPK

    "Artinya tidak ingin mengganti ideologi Pancasila, kalau ingin mengganti ideologi Pancasila dianggap kategori radikal," kata Direktur Imparsial ini ditemui di Jakarta, Rabu, 26 Juni 2019.

    Indikator kedua, kata dia, ialah si calon juga tak punya keinginan untuk membangun negara berdasarkan agama tertentu. Dan ketiga, si calon juga tidak pernah terlibat dalam organisasi tertentu.

    Al Araf mengatakan untuk melihat rekam jejak itu, pansel melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Sebelumnya, pelibatan BNPT dalam seleksi calon pimpinan KPK menuai polemik. Wadah pegawai menilai pansel terkesan salah fokus, karena terlalu konsen mencari figur antiterorisme, dibandingkan figur antikorupsi.

    Lebih jauh Wadah Pegawai menilai ada pihak yang memanfaatkan isu berkembangnya radikalisme di KPK untuk menjegal figur-figur tertentu untuk mencalonkan diri. Wadah pegawai khawatir isu ini justru membuat lolosnya sosok yang bakal menghancurkan KPK dari dalam.

    Baca juga: Pansel KPK Sambangi Polri Siang Ini

    Al Araf menyangkal bahwa pansel terlalu fokus pada isu radikalisme. Ia mengatakan pansel tetap berfokus pada karakter calon pimpinan yang punya integritas dan rekam jejak yang baik dalam isu antikorupsi. Karena itu, pansel juga melibatkan KPK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Sementara, pelibatan BNPT dalam seleksi kali ini dilakukan hanya karena isu radikalisme telah menjadi isu nasional. "Ini langkah preventif saja," ujar dia.

    Ia pun menyangkal penampilan fisik seperti berjenggot atau memakai celana cingkrang bakal menjadi indikator pansel dalam menilai calon pimpinan. "Itu stereotyping yang enggak boleh dilakukan," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.