Masih Pakai Alat Bantu Napas, Risma akan Dirawat di ICU Seminggu

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali kota Surabaya, Tri Rismaharani memberikan keterangan kepada wartawan terkait kebijakan yang dikeluarkan di tahun 2013 di ruang kerjanya di Balai Kota Surabaya, Jawa Timur (31/12). TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Wali kota Surabaya, Tri Rismaharani memberikan keterangan kepada wartawan terkait kebijakan yang dikeluarkan di tahun 2013 di ruang kerjanya di Balai Kota Surabaya, Jawa Timur (31/12). TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Surabaya - Ketua tim dokter yang merawat  Tri Rismaharini, Hardiono, belum dapat memastikan sampai kapan Wali Kota Surabaya itu dipindahkan dari ruang ICU ke kamar perawatan biasa. Menurut Hardiono, ia dan anggota tim yang berjumlah belasan dokter itu masih menunggu perkembangan kesehatan Risma

    Baca: Alasan Dokter Minta Wali Kota Risma Dijauhkan dari Interaksi

    “Pengalaman kami menangani pasien yang sakit begini, biasanya seminggu. Tergantung kondisinya, kalau trennya membaik, ya, cepat. Nggak sampai seminggu,” kata Hardiono saat memberikan keterangan di Gedung Bedah Pusat Terpadu Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya, Kamis, 27 Juni 2019.

    Menurut Hardiono, Risma diberi alat bantu napas karena penyakit asma yang kambuh sempat membuatnya sesak. Karena diberi alat bantu napas, kata Hardiono, selama dua kali 24 jam Risma diberi obat penenang. Tujuannya agar pasien nyaman saat obat yang diinjeksikan ke tubuh bekerja. “Sekarang dosisnya kami turunkan karena sudah ada respons,” katanya.

    Hardiono menilai  kondisi Risma makin membaik dan stabil. Salah satu indikasinya, kata Hardiono, adalah pernapasan pasien yang terlihat kian teratur. “Ibaratnya kalau awalnya kemarin kita beri pernapasan 100 persen, sekarang tinggal 60 persen,” ujar Hardiono.

    Kepala Bagian Hubungan Masyaraka Pemrintah Kota Surabaya Muhammad Fikser mengatakan kondisi Wali Kota Tri Rismaharini menunjukkan tren membaik setelah dirawat dua hari di ICU Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo. 

    Membaiknya kondisi Risma, kata Fikser, ditunjukkan dengan sudah dapat berkomunikasi dengan keluarganya. “Namun beliau belum boleh dijenguk oleh siapa pun, karena diperlukan waktu istirahat yang cukup untuk Bu Risma,” kata Fikser.

    Fikser menampik  kabar di media sosial yang menyebukan Risma tak sadarkan diri. Menurut dia, informasi yang bersumber dari media sosial tentang Risma tak bisa dipertanggungjawabkan. “Kabar bahwa Bu Risma sempat tak sadarkan diri itu hoaks,” ujar Fikser.

    Risma dirawat di ICU Rumah Sakit Soetomo sejak Rabu pagi kemarin, 26 Juni, setelah dirujuk dari Rumah Sakit Umum dr Soewandi. Dokter menyatakan Risma mengalami gangguan maag dan asma sehingga perlu perawatan intensif.  

    Baca: Dirawat Intensif, Wali Kota Risma Sementara Tak Boleh Dikunjungi

    Kepala Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit Soetomo Pesta Marulian Manurung menuturkan pihak rumah sakit membentuk tim dokter dari berbagai spesialis yang berjumlah 12-15 orang khusus untuk merawat Risma. “Kami all out,” kata Pesta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.