PBNU: Radikalisme dan Intoleransi Tersebar dari SMA Sampai BUMN

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Radikalisme. REUTERS

    Ilustrasi Radikalisme. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Mujib Qulyubi menganalogikan radikalisme dan intoleransi sebagai penyakit kanker dalam kehidupan berbangsa. Menurut dia, kalau paham radikalisme itu sudah menjangkiti mahasiswa, maka artinya sudah masuk stadium tiga. 

    "Saya ibaratkan begitu, tetapi stadium 1 itu ada di gerakan rohis (Rohani Islam), stadium 4 ini kalau sudah masuk di BUMN," kata Mujib dalam diskusi Mendorong Pandangan dan Gerakan Keagamaan Moderat ke Gelanggang Kampus" di Hotel Sofyan, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 25 Juni 2019.

    Baca juga: Tepis Isu Radikalisme, KPK: Jangan Lihat dari Jenggot dan Celana

    Menurut dia, alumni dari Rohis di Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah disiapkan untuk bisa memasuki universitas tertentu. Polanya, kata dia setelah Rohis di kampus akan ikut ke dalam Gema Pembebasan yang merupakan organisasi sayap dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan juga lembaga dakwah kampus (LDK). Selanjutnya itu bakal tersebar ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Itu satu kesatuan," ungkap dia. 

    Dia berharap hasil riset dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarkat Universitas Nahdatul Ulama Indonesia bisa memberikan solusi penanganan radikalisme, tidak jadi dokumentasi yang sekedar menjadi temuan emas tanpa tindak lanjut. “Ini harus bermanfaat betul, jangan membuat kaget saja."

    Baca juga: Bantah Isu Celana Cingkrang, Pimpinan KPK: Ideologi Kami Satu

    Pemerintah harus berani mengikuti langkah Mesir yang telah lebih dulu melarang referensi yang terkait dengan HTI. Kalau berdasarkan pernyataan Menteri Ryamizard Ryacudu yang menyebutkan telah tiga persen anggota TNI terpapar radikalisme tentu kondisinya sudah membahayakan. "HTI  bisa dilarang tapi ternyata Gema Pembahasan masih terus berjalan, masuknya di sisi pengkaderan itu masukkan dari SMA."

    Dia juga meminta mewaspadai pesantren ad hoc yang menyewa kontrakan di sekitar kampus untuk dijadikan tempat penyebaran paham radikalisme. Desainnya jelas, yakni alumni Rohis SMA dicarikan kampus seperti UGM, ITB, IPB dan kampus negeri lainnya. "Bahkan kalau sudah lulus, kalau mereka mau bekerja. sudah disiapkan BUMN-nya.” Hampir 50 masjid BUMN terindikasi terpapar radikalisme. “Saya rasa itu juga sudah menjadi kendala kita."

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.